
Penulis : Thata Debora Agnessia
Tulisan ini memenangkan Creative Writing Competition yang diselenggarakan oleh Demi Gadis (YSEALI Project Summit 2023) pada tahun 2024, dengan dukungan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat (U.S. Embassy), American Spaces Indonesia, dan Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI). Namun, tulisan ini tidak dipublikasikan secara resmi oleh pihak penyelenggara.
Sejak usia yang sangat muda, aku dan perempuan yang tumbuh di sekitarku telah disuguhi dengan stigma bahwa perempuan harus memenuhi standar kecantikan, seperti ramping, berkulit putih, dan lain sebagainya. Stigma itu membuatku terperangkap pada batas penampilan fisik dan peran perempuan yang begitu terbatas. Pemahaman terhadap kesetaraan gender menuntunku keluar dari stigma tersebut.
Sekitar delapan tahun lalu, tepatnya saat aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) aku begitu mudah bergaul. Dikenal punya banyak teman, disenangi guru-guru, dan banyak lagi. Hal itu membuatku merasakan perayaan di setiap kehadiranku.
Namun, aku tidak pernah membayangkan ada harga yang harus kubayar di balik itu semua. Setahun kemudian, elu-elu dari kawan dan guru berubah drastis karena di saat yang sama tubuhku berubah. Aku mulai tumbuh jerawat di wajah.
Seorang guru bahkan pernah mengatakan hal yang hingga kini tak pernah aku lupakan. Katanya, “perempuan yang berjerawat menandakan bahwa mereka pengotor dan tidak pantas.” Kata-kata itu menusuk hingga ke tulang-tulang. Ia bahkan tak sadar aku berada di dekatnya saat ia mengatakan demikian, atau memang itu tujuannya.
Budaya yang menekankan pada pengotakkan perempuan berdasarkan penampilan fisik seperti ini mendorong perempuan untuk bersaing satu sama lain demi memenuhi standar yang ditetapkan oleh masyarakat. Tekanan ini akhirnya menghasilkan persepsi bahwa keberhasilan seseorang perempuan tergantung pada seberapa baik mereka bisa mengalahkan perempuan lain. Fenomena internalized misogyny yang menjatuhkan perempuan lain lahir dari tekanan budaya seperti ini.
Teman laki-laki bahkan risih saat berada di sekitarku hanya karena jerawat yang ada di wajah. Stigma bahwa kulit perempuan yang ideal adalah yang mulus, putih dan bersih itu nampaknya sudah ditelan mentah-mentah oleh lingkaran sosialku. Padahal aku tahu betul banyak orang pasti melewati masa itu, bahkan mereka yang mengolok-olok. Perubahan hormonal menjadi salah satu faktor apalagi ketika seorang perempuan dan laki-laki menginjak masa pubertas.
Aku termakan cibiran, aku kemudian berusaha dengan keras untuk mencapai kulit yang kuinginkan. Ketika aku berhasil, ku pikir semuanya selesai, ternyata tuntutan terhadap perempuan semakin banyak.
Tuntutan itu bertambah ketika aku menginjak sekolah menengah atas (SMA). Aku merasa tubuhku membesar. Aku sering sekali mendapat sinisme dan sindiran di sekolah karena tubuhku yang berisi, akhirnya aku mulai melakukan diet yang ekstrim dan menghabiskan berjam-jam untuk HIIT cardio sampai aku merasa ingin pingsan. Namun, semakin aku berusaha untuk mencapai standar kecantikan yang dipersepsikan, semakin kuat pula rasa tidak puas dengan tubuh ku.
Bukan menyerah, aku terus berusaha untuk mengontrol pola makanku, berdasarkan apa yang dipersepsikan di media sosial dan iklan-iklan produk kecantikan.
Gangguan makan yang kualami pun berkembang ketika aku terus-menerus mengabaikan kebutuhan alami tubuh dan terobsesi dengan kontrol berat badan. Aku menjadi terperangkap dalam siklus mengurangi gizi dalam makanan dan kemudian mengeksploitasi diri dalam diet yang tidak sehat.
Setiap kali aku makan lebih dari yang ku anggap “boleh”, rasa bersalah yang luar biasa menghantui pikiran, memicu siklus perilaku olahraga, kalori defisit yang berlebihan dan amenorrhea sekunder sebagai sebuah konsekuensi dari perilaku gangguan makan yang ku hadapi saat itu.
Pada titik tertentu, aku menyadari bahwa perjuanganku bukan hanya tentang tubuh, tetapi juga tentang harga diri dan persepsi tentang apa artinya menjadi seorang perempuan di tengah masyarakat.
Aku menyadari bahwa stereotip gender yang memojokkan perempuan untuk memenuhi standar kecantikan yang tidak realistis tidak hanya tidak sehat, tetapi juga tidak adil. Iklan dan produk kecantikan dan industri pakaian yang tidak inklusif adalah sebuah permasalahan struktural yang berkontribusi dalam pemahaman sempit dan tidak sehat tentang definisi cantik dan meningkatkan stigma dan diskriminasi terhadap keanekaragaman ras dan etnis yang ada dalam masyarakat.
Perjalanan menuju kesembuhan tidak mudah. Aku harus melawan stigma dan ketidakpahaman tentang gangguan makan, dan lebih dari itu, aku harus membebaskan diri dari kungkungan ekspektasi sosial tentang apa yang seharusnya aku dan tubuh kucapai.
Aku membutuhkan dukungan dari keluarga, teman-teman, dan profesional kesehatan mental gratis secara online untuk memandu ku melalui proses penyembuhan ini. Bahkan ketika aku ingin mendapatkan pertolongan profesional, aku hanya dianggap terlalu berlebihan oleh beberapa orang dan tak memerlukan itu.
Pada titik itu aku menjadi sadar bahwa, di lingkunganku wajar bila seorang perempuan menderita kesakitan di saat melakukan diet ataupun memuntahkan dengan sengaja makanan yang sudah dimakan. Akhirnya, sosial media yang kumiliki pernah menjadi tempat clicktivism untuk membantu orang di sekitarku paham tentang isu gangguan makan pada perempuan.
Pemulihan bukanlah titik akhir dari perjalanan ku, tetapi awal dari pemahaman yang lebih dalam tentang pentingnya kesetaraan gender dalam masyarakat kita. aku belajar untuk menghargai keberagaman tubuh dan menghormati perjuangan setiap individu dalam meraih kesehatan mental dan fisik.
Aku menjadi lebih peduli terhadap dampak negatif dari stereotip gender dan berkomitmen untuk memerangi norma yang merugikan ini. Aku lebih peka dalam memahami perilaku perempuan di sekitarku yang merujuk pada gangguan makan, akhirnya dengan pengalaman ku, aku dapat berdampak bagi perempuan-perempuan disekitarku menjadi sebuah teladan nyata.
Ketika berbicara masalah kesetaraan gender, seringkali pikiran kita tertuju pada isu-isu seperti akses perempuan dalam pendidikan, perbedaan upah (gender pay gap), hak reproduksi, atau perwakilan perempuan dalam politik. Namun, ada sebuah masalah yang sebenarnya urgen untuk dibicarakan tetapi terkadang terlupakan dalam perbincangan tentang kesetaraan gender yakni gangguan makan.
Gangguan makan, seperti anoreksia dan bulimia, tidak hanya menjadi masalah kesehatan fisik, tetapi juga mencerminkan tekanan sosial dan budaya yang tidak adil terhadap perempuan.
Pada akhirnya, kesetaraan gender bukan hanya tentang kesempatan yang sama dalam pendidikan atau karier, tetapi juga tentang hak setiap individu untuk hidup tanpa tekanan untuk memenuhi standar kecantikan yang tidak realistis. Melalui perjuangan pribadi ini, aku menyadari bahwa kesetaraan gender sejati hanya dapat tercapai ketika kita semua merayakan keberagaman tubuh dan menghormati perjuangan masing-masing individu dalam menemukan kedamaian dengan diri mereka sendiri.
Terlepas dari konsekuensi kesehatan yang masih menjadi perjuangan ku hingga hari ini, aku bangga menjadi bagian dari perjuangan ini, dan aku berkomitmen untuk terus memperjuangkan kesetaraan gender dalam segala aspek kehidupan dari hal-hal terkecil.
Meski perlahan, aku berupaya merajut kembali tubuhku. Tubuh yang sempat berkeping menjadi mozaik-mozaik, lalu kusulam ulang kembali, namun tidak dengan stigma
