
Penulis : Siti Aisyah Pratiwi
Pilar-pilar sumber mata uang menjadi saksi kebengisan
Kabar duka terpaksa disiarkan
Kawan... satu bunga telah gugur, atas nama perjuangan
Seruan keadilan berubah rupa
Beberapa lainnya menangis dan meringis.
Awas! Mereka mengancam! Gumpalan asap pekat dimuntahkan
Kawan, apakah mata mu perih?
Apakah kaki mu sakit?
Masih mampukah kau melihat keangkuhan itu?
Masih mampukah kau berjalan diatas perjuangan?
Berbekal mandat dari tirani,
Mereka lupa diri!
Hei kau, keparat!
Bukankah sejatinya kita ini sama?
Punya hak dan kewajiban,
Punya rasa dan nyawa,
Kita ini setara, setidaknya dimata Tuhan
Lalu kau anggap apa dirimu?
Manusia yang seharusnya bisa memanusiakan manusia lain
Atau anjing pesuruh yang patuh pada tuannya?
Oouhh maaf..
Tidak berniat kasar..
Tapi kenyataannya tindakanmu itu, memang biadab!
Ilustrasi : cdn.pixabay.com
