Nestapa Krisis Air Bersih Sekonyer

Seorang warga menyalakan alat sedot air yang dialirkan ke rumah dari Sungai Sekonyer untuk mandi, cuci, kakus (MCK)

Penulis: Thata Debora Agnessia


Terlihat langit mulai mendung dan air Sungai Sekonyer telah pasang. Seorang warga tengah sibuk menyalakan pompa air di samping kanal sungai untuk mengisi wadah air mandi di rumah. Dari kejauhan, suara kapal-kapal pariwisata yang membawa turis terdengar tiada henti berlalu-lalang menuju Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Tapi banyak turis yang tidak tahu bahwa Sungai Sekonyer yang menawan rupanya menyembunyikan banyak luka bagi penduduk lokal.

“Dulu air Sungai Sekonyer jernih, sama dengan air di simpang kanan [menuju Camp Leakey TNTP]. Ketika maraknya tambang emas ilegal, kami kesulitan dan tak dapat mengkonsumsi air sungai seperti zaman dahulu, air jadi keruh, berminyak dan rasanya sepat,” ujar Hadran (67) mulai membuka tabir.

Sebagai salah satu tetua di Desa Sungai Sekonyer, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Hadran menjelaskan bahwa sebelum 1990’an warga desa lazim memanfaatkan air sungai untuk menopang seluruh kebutuhan hidup termasuk masak dan minum. Air sungai bisa langsung diminum tanpa dimasak terlebih dahulu dan tidak ada keluhan kesehatan dari warga. Sayangnya, mereka tak dapat menikmati kesegaran alami itu lagi untuk selamanya.

Menurut Hadran, merkuri atau air raksa (Hg), pupuk dan limbah sawit yang dibuang ke air menjadi penyebab serius dari krisis air bersih ini. Berbagai substansi tersebut berasal dari kegiatan pertambangan emas ilegal sejak 1992 dan disusul oleh pembukaan perkebunan kelapa sawit oleh perusahaan pada 1996. Ketika industri pariwisata TNTP berkembang, warga menyadari bahwa kapal yang mengangkut para turis juga membuang limbah domestik seperti air tinja dan cucian ke sungai.

“Pertambangan emas liar dilakukan di beberapa titik, menggunakan air raksa bermerkuri untuk mengekstraksi emas, dicuci dengan air sungai agar terpisah dari kotoran. Akhirnya limbah pencucian ini tergenang di penampungan ataupun mengalir masuk kembali ke dalam sungai dan menyebar. Selain itu oli dan solar dari mesin juga berkontribusi dalam pencemaran,” jelas Hadran.

Sejak 1990’an ketika air Sungai Sekonyer mulai rusak, warga desa sudah menyadari ada yang tidak beres pada air mereka. Tetapi, karena Sungai Sekonyer merupakan satu-satunya sumber air, akhirnya warga tetap menggunakannya. Saat itulah mulai timbul masalah kesehatan seperti sakit perut dan penyakit kulit. “Awalnya kami minum saja air sungai itu meskipun tahu ada perubahan, tetapi beberapa warga kemudian mengeluh sakit perut. Selain itu warga yang mandi kulitnya gatal-gatal bahkan sampai kemerahan,” ungkap Aisyah (67). Sebagian warga yang tidak tahan hanya dapat membilas badan dengan air hujan.

Tandon air milik warga Desa Sungai Sekonyer.

Hingga sekarang sebanyak 700 jiwa di Desa Sungai Sekonyer harus mengonsumsi air hujan. Di samping atau di dalam tiap rumah warga pasti terdapat tandon air berukuran antara 200 hingga 1.200 liter. “Kami mengosumsi air hujan untuk kebutuhan sehari-hari. 1.200 liter kurang lebih cukup untuk sebulan jika hanya digunakan untuk masak dan minum. Tapi tergantung aktivitas,” jelas Aryadi (34), pemuda Sekonyer yang bergiat dalam konservasi lingkungan.

Keadaan ini memburuk saat musim kemarau, karena dulu mereka harus menempuh jarak 2,5 kilometer ke sumber air bersih di Pesalat yang tak pernah kering. Masalahnya, akses menuju Pesalat sekarang nyaris mustahil karena kondisi jembatan yang sudah tua dan rapuh. “Kami membeli air dari Desa Sungai Bedaun saja karena lebih dekat, satu jerigen berukuran 20 liter dengan harga Rp. 5.000 hingga 7.000,” jelas Aryadi.

Aisyah (67) menuturkan bahwa kondisi ini tidak jarang justru makin mempersulit warga yang kurang mampu secara ekonomi. Selain itu, pihak yang paling termarjinalkan sebagai konsekuensi dari krisis air adalah perempuan. “Saya janda dan tidak kuat lagi bekerja. Dulu, saya bisa dagang kue untuk membantu ekonomi keluarga. Sekarang hanya mengharapkan cucu, itupun masih kurang.          Itu sebabnya saya sering minta bantuan air gratis kepada penjual,” jelas Aisyah.

Tak berhenti di situ, Suci (24) seorang bidan yang bekerja di Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Sungai Sekonyer sejak 2021, menuturkan bahwa Pustu desa rentan dalam hal persediaan air bersih. “Jika ada perempuan yang ingin melahirkan, biasanya warga lain membantu untuk menyumbang air bersih,” jelasnya.

DULUNYA NELAYAN DI LUMBUNG PADI

Bekas lahan padi di Sekonyer yang tidak dapat ditanami lagi.

Kecamatan Kumai adalah salah satu sentra penghasil ikan laut maupun tawar di Kotawaringin Barat. Meski begitu warga Sekonyer sebagian besar dulunya menangkap ikan untuk kebutuhan konsumsi sendiri. Celakanya, pada 2002 mendadak ikan-ikan mati dalam jumlah besar hingga menutupi seluruh permukaan sungai. Bahkan buaya yang merupakan pemangsa puncak terkuat di ekosistem sekitar juga ditemukan mati. Warga menduga hal itu disebabkan pencemaran limbah sawit dari hulu Sungai Sekonyer. “Saat itu parah, semua ikan mati, butuh waktu setahun untuk bisa mendapat ikan seperti biasa, itupun kecil-kecil,” jelas Hadran.

Beberapa tahun setelah seluruh ikan ditemukan mati terapung, Hadran mengisahkan sebagian warga yang berupaya untuk membudidayakan ikan sendiri. “Dulu, kami pernah mencoba metode keramba ikan di sini, jenis ikan patin dan nila. Saat itu kami kaget, karena ikan hanya dapat hidup kurang dari satu jam setelah itu mati,” tambahnya.

Selain perikanan, sektor pertanian warga juga hancur. Hal yang tidak banyak diketahui adalah dahulu Desa Sungai Sekonyer menyandang gelar lumbung padi se-Kotawaringin Barat. Meski agak pesisir, letak pemukiman lama Sekonyer masih cukup ideal untuk ditanami padi. Sekarang hanya tersisa lahan kosong yang ditumbuhi tanaman liar. “Kami menanam padi untuk terakhir kali pada 2003. Hingga beberapa tahun setelahnya kami masih mencoba lagi, namun dalam waktu satu bulan pertumbuhan padinya aneh lalu mati. Ada dua kecurigaan kami, pertama cuaca sudah tidak bisa diprediksi. Kedua, masalah air yang menjadi irigasinya,” jelas Ariyadi.

Sekarang karena sudah tak bisa berladang dan tuntutan hidup semakin banyak, sebagian besar warga memilih untuk bekerja pada perusahaan sawit yang beroperasi di sekitar desa. Sisanya, tentu saja, memilih untuk bekerja pada sektor pariwisata di TNTP.

SUMBER AIR SUDAH DEKAT?  

Warga Desa Sekonyer tidak tinggal diam saat menghadapi krisis air bersih ini. Upaya pertama mereka adalah meminta pemerintah desa untuk membuat sumur. Hal ini telah dilakukan beberapa kali, baik itu sumur bor atau galian. Sayangnya sumur ini tidak bertahan lama. “Sumur digali hanya 60-200 meter saja, melebihi itu kandungan besinya semakin kuat. Lama kelamaan air sumur juga tercemar. Kata orang pH-nya asam,” jelas Aisyah.

Purqan (44), ketua RT.01 Desa Sekonyer menjelaskan, kondisi lingkungan sekitar secara alamiah adalah lahan gambut yang tinggi kandungan organik dan zat besi sehingga tidak layak digunakan sebagai air minum. Kondisi ini bisa disiasati dengan teknologi filtrasi (penyaringan), namun Purqan menduga pencemaran akibat aktivitas industri terlalu tinggi. “Herbisida beracun seperti gramoxone dan roundup digunakan dalam perkebunan sawit. Apalagi dalam jangka panjang menyerap masuk ke akar, karena kondisi lahan kita rawa maka akhirnya bisa larut juga bersama air dalam tanah. Mungkin, bisa jadi hal ini yang memperparah kondisi kami sekarang,” ujar Purqan yang ironisnya juga merupakan karyawan perkebunan sawit.

Menara air di Desa Sungai Bedaun yang gagal mengalir ke Desa Sekonyer.

Pada 2015 warga pernah beberapa kali mengajukan laporan terkait permasalahan ini kepada salah satu perusahaan sawit yang beroperasi. Akhirnya, perusahaan ikut berupaya menyediakan air bersih bagi warga dengan membangun menara air yang tingginya cukup untuk memberi tekanan pada sistem distribusi air. Saat itu warga Sungai Sekonyer merasa tidak dilibatkan dalam prosesnya, sehingga proyek yang terkesan hanya formalitas itu menjadi mangkrak meninggalkan tangki-tangki kosong. Masalah tidak terpecahkan.

Pada 2020 pemerintah Desa Sungai Sekonyer melakukan kerja sama dengan pemerintah Desa Sungai Bedaun untuk membangun saluran air bersih. “Menara air dibangun dengan pipa panjang agar bisa menyalurkan air dari Bedaun ke desa kami, dan di setiap rumah warga sudah tersedia mesin pompa air. Tetapi ini tidak bertahan lama, bahkan di RT. 02 hanya bertahan dua bulan saja,” tutur Hadmad (50), Kepala Desa Sekonyer. Proyek ini akhirnya juga mangkrak karena jarak dan persediaan air tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dua desa.

Untuk ketiga kalinya, jelas Hadmad, pihak desa melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat. “Pemkab merespon, beberapa upaya (penggalian sumur) sudah dilakukan. Tapi setelah selesai digarap, kami selalu menemui tantangan seperti dua sumur sebelumnya,” ungkapnya. Air sumur masih tidak layak untuk digunakan.

Setelah Desa Sekonyer menyandang predikat Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022, masalah ketersediaan air bersih makin menjadi sorotan. Sejak dahulu, desa ini merupakan magnet ekowisata yang banyak dikunjungi oleh turis dan relawan baik nasional maupun internasional. Dengan demikian, Hadmad merasa masalah ini harus segera diatasi demi menciptakan ekosistem pariwisata yang baik.

Setelah pengajuan pada pemerintah untuk yang kesekian kalinya, proyek menara air bersih untuk warga Sekonyer rencananya akan kembali digarap pada pertengahan Maret 2024. Satu menara baru akan dibangun dengan tanah hasil hibah Pemerintah Desa Sungai Bedaun. Warga Sekonyer tinggal menunggu turunnya anggaran dari pemerintah. Tapi hingga artikel ini diterbitkan (September 2024) rencana tersebut belum juga direalisasikan. “Tolong bantu kami supaya proyek menara air bersih ini cepat terwujud. Kami sangat berharap warga dan tamu Desa Sungai Sekonyer bisa menikmati air bersih seperti dahulu,” pungkas Hadmad.

Tinggalkan komentar