Paslon Bupati Kobar Tebar Janji Pembangunan Arut Utara Saat Bicara Gagasan

Penulis: Riska Primanda dan Mia Faramitia


Di tengah suara riuh mahasiswa yang memadati Aula Universitas Antakusuma pada 26 Oktober 2024 lalu, bayang-bayang realitas hidup masyarakat Arut Utara kembali mencuat. Kecamatan yang digadang-gadang menyimpan potensi sumber daya alam melimpah itu, ternyata masih jauh dari sejahtera. Di atas “emas” mereka berdiri, namun apa yang mereka rasakan sehari-hari tak kunjung mencerminkan kilauan harta yang terpendam di bawahnya.

Acara Bepander Gagasan yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Antakusuma ini memang punya tujuan besar: mengajak para calon bupati dan wakil bupati Kotawaringin Barat (Kobar) untuk menanggapi langsung masalah yang paling mendesak di benak masyarakat, terutama soal infrastruktur di Kecamatan Arut Utara. Topik yang bukan sekadar isu, tapi sudah menjadi jeritan masyarakat. Dari jalanan yang sulit dilalui hingga layanan publik yang minim, Arut Utara seakan menjadi “anak tiri” di Kotawaringin Barat.

Gusti Muhammad Rivqy (20), salah satu panelis yang merancang pertanyaan, mengungkap “Arut Utara masih tertinggal, terutama dalam infrastruktur. Keterbatasan ini berdampak pada mobilitas masyarakat, bahkan menghalangi mereka mengakses layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan yang lebih baik,” ujarnya dengan nada serius. Rivqy sadar bahwa Arut Utara membutuhkan lebih dari sekadar janji politik—mereka butuh aksi nyata yang mendatangkan perubahan.

Janji Pembangunan atau Sekadar Kata-kata?

Di panggung diskusi, Nurhidayah, calon bupati nomor urut 2, menguraikan visi besar tentang pemerataan pembangunan. Menurutnya, Kabupaten Kotawaringin Barat dengan luas wilayah lebih dari 10 ribu kilometer persegi memang menghadapi tantangan besar dalam pemerataan infrastruktur. Di hadapan mahasiswa dan masyarakat yang hadir, ia menawarkan solusi melibatkan perusahaan-perusahaan setempat melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR berkelanjutan. “Jika CSR dikelola dengan baik, ini bisa mempercepat pembangunan di daerah-daerah yang paling membutuhkan,” ujar Nurhidayah, berharap ucapannya menyulut harapan.

Di sisi lain, Rahmat Hidayat, calon bupati nomor urut 1, juga menyampaikan pandangan serupa. Ia mengakui bahwa Arut Utara butuh perhatian khusus namun menegaskan bahwa perbaikan di wilayah ini tak boleh mengesampingkan kebutuhan daerah lain. Dengan nada optimis, Rahmat mengungkapkan kesiapannya untuk bekerja keras demi pemerataan yang adil bagi seluruh kecamatan di Kobar.

Namun, optimisme para kandidat ini tak lantas memuaskan semua orang. Enjelina Puja Kristiana (19), mahasiswi Untama asal Arut Utara, hadir sebagai suara yang berani. Dalam sesi wawancara oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mardaheka, Puja mengutarakan perasaan kecewanya. “Saya kurang puas dengan jawaban para calon,” ucap Puja, tak bisa menyembunyikan rasa skeptisnya. “Keberadaan perusahaan di sini selama ini hanya membawa luka bagi masyarakat. Konflik antara perusahaan dan warga pernah terjadi, tidak juga bisa memberi kembali secara berarti pada masyarakat.”

Luka Lama yang Terus Berdarah

Puja tidak sendiri dalam pandangannya. Bagi masyarakat Arut Utara, kehadiran perusahaan sering kali membawa dilema. Di satu sisi, kehadiran mereka diharapkan mampu mendukung pembangunan daerah dan ekonomi. Namun, dalam kenyataannya, tak juga dapat memberikan timbal balik yang baik, keresahan masyarakat sudah mengakar. Luka yang ditinggalkan oleh perusahaan menjadi catatan pahit yang sulit dilupakan.

Dalam akhir wawancaranya, Puja menyampaikan harapan sederhana tapi penuh makna. “Siapapun yang terpilih, saya berharap mereka benar-benar memenuhi janji untuk membangun infrastruktur di Arut Utara. Kami ingin merasakan apa itu pembangunan,” ucapnya.

ini adalah jalan panjang untuk perubahan, pulang dari acara malam itu, para peserta mungkin merenungi nasib Arut Utara. Mungkin mereka berpikir, apakah kisah suram ini akan terus berlanjut, atau justru berubah menjadi babak baru yang penuh harapan? Hingga saat itu tiba, masyarakat Arut Utara hanya bisa terus bersuara, mengingatkan bahwa di atas emas yang terpendam di tanah mereka, ada manusia yang menginginkan hidup lebih baik.


Penyunting: Thata Debora Agnessia

Tinggalkan komentar