Mengurai Tabu Dalam Diskusi Interaktif Anti Kekerasan Seksual

Ruang diskusi yang aman dan inklusif telah membuka tabir permasalahan yang terpendam hingga akhirnya terkuak, yang dianggap tabu runtuh, membuka jalan bagi keberanian dan solidaritas mahasiswa.

Penulis: Thata Debora Agnessia

Kementerian Hukum dan HAM, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Antakusuma (Kemenkumham BEM Untama) menggelar acara Penyuluhan Anti Kekerasan Seksual untuk Organisasi Mahasiswa pada Rabu (18/12/2024). Acara tersebut menghadirkan narasumber dari Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (Puspa) Kotawaringin Barat.

Acara ini dirancang khusus agar peserta, yang terdiri dari pimpinan organisasi mahasiswa, agar dapat memahami cara merespons laporan pelecehan dan kekerasan seksual dengan beretika, empati, serta berlandaskan prinsip non-diskriminasi.

Penyuluhan Anti Kekerasan Seksual yang diadakan untuk organisasi mahasiswa itu awalnya terasa seperti acara biasa: pembukaan formal, presentasi materi, dan tanya jawab. Namun, segalanya berubah ketika audiens dibagi ke dalam tiga kelompok kecil untuk berdiskusi, mikrofon mulai beralih ke tangan audiens. Satu per satu, mereka berbicara, bukan hanya menjawab dan bertanya, tetapi juga berbagi cerita. 

Seorang mahasiswi (20), korban yang tak boleh disebutkan namanya, menyambut mikrofon usai rekan sekelompok, wajahnya sedikit tegang namun penuh tekad. Ia memulai dengan nada pelan, menceritakan pengalamannya mendapat kekerasan seksual elektronik dan perlakuan cabul yang diterimanya dari temannya sendiri. “Mereka menertawakan saya, dan saat itu saya ingin melawan dan menangis namun tidak bisa,” katanya dengan suara bergetar. Ruangan mendadak hening, semua mata tertuju padanya. 

Mahasiswa yang hadir beserta seluruh tim forum Puspa dengan pengalaman bertahun-tahun, mendengarkan dengan sabar. Dengan lembut, narasumber, Rika memberikan tanggapan, “apa yang kamu alami bukan hal kecil, kamu tidak sendirian, dan kita bisa menghadapi ini bersama.” Kalimat itu seolah menjadi pelukan hangat di tengah suasana yang emosional. 

Keberanian mahasiswi tersebut telah memantik cerita demi cerita, masing-masing membawa keunikan dan luka yang tak terlihat. Seorang peserta laki-laki (19) mengejutkan audiens ketika ia angkat bicara. Ia mengungkap dirinya pernah menjadi korban, “saya ingat betul kejadian hari itu, hingga sekarang saya masih merasakan trauma,” ujarnya tatkala air matanya mengalir.

Diskusi itu tidak hanya menjadi ajang berbagi cerita, tetapi juga mengubah cara pandang mahasiswa. Beberapa peserta mengaku awalnya ragu untuk bicara, takut dihakimi. Namun, kehangatan dan empati yang mengisi ruangan membuat mereka merasa aman. “Saya merasa lega akhirnya dapat bicara. Selama ini saya menyimpan beban ini sendiri,” ujar salah satu mahasiswi (19) penyintas kekerasan seksual.

Penyuluhan ini membuktikan bahwa dialog bukan hanya alat untuk menyampaikan informasi, tetapi juga medium untuk menyembuhkan. Dalam ruang yang aman, suara-suara kecil menjadi lantang, dan tabu yang selama ini membungkam mulai retak.

“Penyuluhan ini mengajarkan kami untuk mendengarkan dengan hati, tidak menyepelekan cerita korban, dan memahami bahwa setiap tindakan kecil yang kita ambil untuk mendukung mereka bisa membawa dampak besar,” kata Rahel Elena Br. Samosir, panitia penyelenggara.

Solidaritas yang tercipta di ruangan itu, meski hanya untuk beberapa jam, meninggalkan pesan yang mendalam, berbicara adalah langkah pertama untuk melawan kekerasan seksual.

Tinggalkan komentar