Kongres ke-VII BEM UNTAMA Menuai Kritik Peserta

Peserta Penuh dan Peserta Peninjau dalan Kongress BEM Universitas Antakusuma (BEM UNTAMA)

Penulis: Salsabilazulfa Umniyati


Jum’at (28/2/2025), Badan Eksekutif Mahasiswa, Universitas Antakusuma (BEM UNTAMA) menyelenggarakan kongres ke-VII yang berlangsung selama dua hari hingga Sabtu (01/02/2025) di aula Sultan Ahmad Hermansyah, Universitas Antakusuma. Kongres ini dilaksanakan pada pukul 09:00 hingga 17:00 WIB (Waktu Indonesia Barat).

Peserta yang hadir relatif lebih sedikit dari syarat yang ditentukan dalam Pasal 2 Ayat 1 Anggaran Rumah Tangga (ART). Namun, kongres tetap berlanjut atas kesepakatan peserta kongres yang hadir, yakni setidak-tidaknya tiga perwakilan dari setiap fakultas. “Kami menghadapi konflik waktu karena berhadapan dengan libur puasa, namun Kongres tidak bisa kita undur,” jelas Andre Saputra, Presiden Mahasiswa BEM UNTAMA.

Peserta Melakukan Lobbying dengan Presidium Sidang Sementara untuk Menemukan Kesepakatan tentang Peserta Kongres yang Hadir

Melalui Kongres Luar Biasa pada 2023, anggota BEM Universitas Antakusuma yang diberi nama Kabinet Bangkit Karya ini dilantik pada 3 April 2024. Keputusan itu ditandai dengan keluarnya Surat Keputusan (SK) yang ditandatangi oleh rektor Universitas Antakusuma yaitu Prof. Dr. M.Fatchurahman, M.Psi., M.Pd. Jika menimbang dari SK, maka dari sinilah BEM UNTAMA menilai keputusan untuk melakukan kongres diawal bulan Maret sudah tepat.

Hal tersebut disampaikan kembali oleh Andre Saputra dalam sambutannya, bahwa kongres tahun 2025 ini dilaksanakan dua bulan lebih cepat dari tanggal keluarnya SK dikarenakan pengurus baru akan dilantik bulan April sesuai dengan masa berlakunya SK. Jadi, BEM Untama telah menimbang alasan efisiensi waktu dan harmonisasi.

Kabinet Bangkit Karya mempunyai visi mewujudkan BEM Untama yang inspiratif, kreatif, inovatif, responsif, sinergis dan profesional demi menciptakan mahasiswa Untama yang berakhlak dan berkualitas. Dalam laporan pertanggungjawaban BEM Untama bangga karena telah mampu membangkitkan kembali gerakan mahasiswa setelah tiga tahun dalam kekosongan.

Peserta Kongres Meminta Izin Pada Pimpinan Sidang untuk Menyampaikan Komentar atau Kritik

Selama kongres berjalan, panitia maupun BEM Untama sendiri tidak luput dari kritikan-kritikan peserta yang hadir. Salah satu peserta yang menyampaikan kritiknya adalah Mawelson Damanik, Wakil Gubernur BEM Fakultas Pertanian. “Saya kecewa, dalam kongres hari ini tidak mencerminkan demokrasi di kampus kita,” tuturnya.

Ia menjelaskan, waktu pelaksanaan kongres bertepatan di hari pertama bulan Ramadhan dimana kebanyakan mahasiswa pulang kampung, “jadwalnya sangat tidak strategis untuk melaksanakan kongres yang harusnya dapat merangkul banyak mahasiswa,” jelasnya.

Mawelson menilai, partisipasi maksimal dari mahasiswa itulah yang merupakan esensi dari kongres, karena ini adalah salah satu wadah utama yang sah untuk mengevaluasi, mengkritik kinerja dan kepemimpinan BEM saat ini. Apabila tidak dikritik secara kritis, maka kepemimpinan selanjutnya akan lebih buruk daripada kepemimpinan sekarang.

Mawelson Damanik, Wakil Gubernur Fakultas Pertanian dalam Wawancara bersama Lembaga Pers Mahasiswa, Mardaheka (LPM Mardaheka) Usai Kongres Rampung.

Ia melanjutkan, “sejauh pengalaman saya mengikuti kongres, kali ini banyak yang mengecewakan. Seperti yang saya jelaskan tentang matinya demokrasi, lalu kurangnya informasi kepada mahasiswa atau alumni, dan penempatan waktu pelaksanaan kongres yang tidak tepat, hingga mengesampingkan urusan genting seperti turun aksi membela keadilan” ucapnya.

Mawelson berharap kongres yang akan datang bisa lebih demokratis, dapat melihat kondisi dan situasi di lingkungan kampus dan mampu mengidentifikasi dengan lebih hati-hati kondisi mahasiswa agar peserta kongres yang datang bisa lebih banyak dari tahun ini.

Tinggalkan komentar