Mariani, seorang perempuan yang berdiri tegak dalam barisan perlawanan di tengah deru konflik yang mengguncang tanah moyangnya.

Mariani (37) penduduk asli Desa Bangkal, Kecamatan Seruyan Raya, Kabupaten Seruyan, masih ingat betul kejadian pada 7 Oktober 2023 lalu, ketika aksi menuntut janji plasma PT. Hamparan Masawit Bangun Persada (HMBP) tak kunjung ditepati, namun malah berakhir dengan peluru dan kematian seorang warga.
“Doorr!! … Doorr!! … Doorr!!,” suara tembakkan peluru oleh aparat masih jelas di ingatan Mariani. Kepanikan tak bisa diredam, massa berlarian menghindari peluru dan perihnya gas air mata, sebagian memilih bersembunyi di balik pohon sawit. Di tengah kekacauan, warga menyaksikan pemuda bernama Gijik (35) dan Taufik (21) terjatuh. Tubuh mereka ambruk di tanah, penuh kesakitan. Mariani juga di sana, “kejadian penembakan itu kacau,” kata Mariani dengan wajah serius.
Tragedi tersebut mendapat konfirmasi dari bukti yang berhasil dihimpun dari warga. Mariani turut mendokumentasikan kejadian itu dengan sebuah video yang menunjukkan brutalitas aparat saat aksi warga, “saya bagikan video ke grup Whatsapp hingga diviralkan oleh kawan,” jelas Mariani. Dokumentasi tersebut menjadi salah satu bukti kuat yang digunakan.
Namun, Mariani tak hanya menjadi saksi pasif. Di tengah kekacauan, ia mengangkat telepon genggamnya, merekam setiap detik kejadian yang berlangsung di depan matanya. Ia tahu apa yang ia rekam bukan hanya video, melainkan potongan sejarah yang harus disuarakan.
“Saya bagikan video ke grup WhatsApp, hingga akhirnya viral,” ungkap Mariani. Dokumentasi itu tak hanya berfungsi sebagai catatan visual, tetapi juga menjadi bukti kuat yang digunakan untuk mendesak keadilan. Baginya, ini adalah perlawanan kecil namun bermakna, meski ancaman nyata membayangi.
Mariani sadar akan risikonya. Dalam lingkungan di mana kekuatan besar sering membungkam yang lemah, tindakannya adalah keberanian yang mahal harganya. Namun ia percaya, kebenaran harus disuarakan, tak peduli seberapa besar tantangannya.
Kisah Mariani tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang konflik agraria di Indonesia. Di tanah yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, berdiri perkebunan kelapa sawit yang sering kali menyisakan luka bagi warga lokal.
Bagi perempuan seperti Mariani, konflik ini bukan hanya soal tanah, tetapi juga masa depan. Mereka tak hanya kehilangan hak, tetapi juga martabat. “Janji plasma yang kami tuntut itu untuk kehidupan keluarga kami,” katanya. Namun, janji itu terasa seperti fatamorgana, semakin dikejar, semakin jauh dan hilang.
Kini, Mariani menjadi salah satu suara dari Desa Bangkal. Ia tak hanya memperjuangkan haknya, tetapi juga hak komunitasnya. Video yang ia rekam dan sebarkan menjadi simbol perlawanan dari akar rumput, memantik banyak orang untuk terus menyuarakan kebenaran.
Namun, Mariani tahu perjuangan ini belum usai. Luka dari tragedi 7 Oktober 2023 masih menganga, tetapi ia percaya pada kekuatan solidaritas. “Kami hanya ingin keadilan. Itu saja,” katanya. Dengan langkah kecil namun pasti, ia terus berdiri, menjaga asa di tengah desing peluru yang masih membekas di ingatannya.
Mariani bukan hanya seorang saksi. Ia adalah suara yang menghidupkan harapan di tengah luka, di tengah perjuangan panjang atas nama keadilan.
