Alarm Merah Demokrasi Mahasiswa

Sepinya minat untuk mencalonkan diri sebagai Presiden Mahasiswa di Universitas Antakusuma bukan hanya soal kelelahan struktural semata. Akar yang lebih nyata dari permasalahan ini adalah minimnya eksistensi organisasi mahasiswa itu sendiri di mata mayoritas mahasiswa. Ormawa di kampus ini belum cukup menarik untuk menjadi pusat perhatian atau partisipasi. Banyak mahasiswa bahkan tidak tahu apa peran BEM, apa tugas himpunan jurusan, atau bagaimana cara terlibat di dalamnya. Lanjutkan membaca Alarm Merah Demokrasi Mahasiswa

Kepohonan: Antara Mitos dan Etika Sosial

Meski diselimuti oleh mitos, ada sejumlah pendapat yang membuat kepohonan menjadi lebih masuk akal. Tjilik Riwut dalam bukunya Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan menerangkan bahwa diantara Dayak Ngaju ada tradisi danom tewun tihang [minuman keras], yaitu untuk menjamu tamu dengan arak menggunakan tanduk kerbau. “Disarankan untuk menerima dan meminum arak yang telah diberikan sekalipun hanya diminum sedikit sekali, jangan menolak arak yang telah diberikan karena maksud pemberian arak adalah ungkapan rasa gembira dan hormat. Lanjutkan membaca Kepohonan: Antara Mitos dan Etika Sosial

Menengok Keping Sejarah Pendidikan di Taman Prasasti

Di antara puluhan makam yang ada, kami berhenti di satu titik yang terasa sarat makna, prasasti Hermanus Frederik Roll (H.F Roll), Ia lahir di Gouda, Belanda, pada 27 Mei 1867, Roll menyelesaikan studi kedokterannya di Amsterdam pada tahun 1893. Setelah itu, ia bergabung dengan Angkatan Perang Hindia Belanda (KNIL) sebagai dokter militer. Ia dikenal sebagai pendiri STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen), sekolah kedokteran pertama bagi pribumi di Hindia Belanda. Lanjutkan membaca Menengok Keping Sejarah Pendidikan di Taman Prasasti

Membaca Ulang Sejarah Perburuhan di Indonesia

Sejarah perburuhan di Indonesia bukan hanya catatan tentang hak-hak buruh dan relasi industrial, tetapi juga cermin dari dinamika politik dan ekonomi bangsa. Di setiap babak sejarah nasional, buruh senantiasa menjadi aktor yang kadang disingkirkan, kadang dimanfaatkan, tetapi tak pernah benar-benar absen dari panggung sejarah. Dari zaman kolonial hingga era Reformasi, buruh Indonesia telah menunjukkan bahwa di balik peluh dan keterbatasan, selalu ada kesadaran kolektif yang melahirkan perlawanan. Lanjutkan membaca Membaca Ulang Sejarah Perburuhan di Indonesia