
Penulis: Thata Debora Agnessia
Jakarta tidak pernah benar-benar memberi ruang untuk diam. Ia memaksa warganya bergerak, tergesa, dan sering lupa. Tapi di balik segala kebisingan dan kepadatan itu, selalu ada celah kecil untuk bernapas, asal kita tahu ke mana melangkah. Di tengah hiruk-pikuk ibu kota itu, saya memutuskan untuk pergi ke Taman Prasasti bersama Salsabila Khairunnisa, kawan sekaligus pemandu yang telah lama jatuh cinta pada situs-situs sunyi semacam ini.
Taman Prasasti di Kota Jakarta Pusat dahulu dikenal sebagai Kebon Jahe Kober, adalah kompleks pemakaman yang dibangun pada 1795 untuk memakamkan warga Eropa. Kawasan ini menggantikan kuburan lama di samping gereja Nieuw Hollandsche Kerk, yang kini menjadi Museum Wayang. Awalnya, pemakaman ini diperuntukkan bagi pegawai Belanda atau mereka yang disetarakan dengan orang Eropa, dan tetap digunakan hingga masa pendudukan Jepang.
Seiring waktu, Kebon Jahe Kober menjadi tempat peristirahatan bergengsi, dihuni oleh tokoh-tokoh penting seperti pejabat, tuan tanah, pelaku sejarah, hingga selebritas masa lalu. Antara tahun 1967 hingga 1975, pengelolaannya berada di bawah lembaga pemakaman Jakarta, hingga akhirnya ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya dengan nama Museum Taman Prasasti melalui SK Gubernur DKI Jakarta No. 475 Tahun 1993.
Di antara puluhan makam yang ada, kami berhenti di satu titik yang terasa sarat makna, prasasti Hermanus Frederik Roll (H.F Roll), Ia lahir di Gouda, Belanda, pada 27 Mei 1867, Roll menyelesaikan studi kedokterannya di Amsterdam pada tahun 1893. Setelah itu, ia bergabung dengan Angkatan Perang Hindia Belanda (KNIL) sebagai dokter militer. Ia dikenal sebagai pendiri STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen), sekolah kedokteran pertama bagi pribumi di Hindia Belanda.
Nisan miliknya berbentuk buku yang melambangkan ilmu pengetahuan, simbol yang selaras dengan peran pentingnya dalam mendirikan sekolah kedokteran bagi pribumi, STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) yang memiliki peran penting dalam sejarah pendidikan di Indonesia.
Pada tahun 1902, Roll mendirikan STOVIA, sekolah kedokteran yang awalnya dirancang untuk mendidik dokter-dokter pribumi yang akan melayani kepentingan kolonial Belanda. Sekolah ini memberikan pendidikan kedokteran kepada pribumi yang pada masa itu sangat terbatas aksesnya, namun dalam prosesnya, STOVIA menjadi pusat pembentukan pemikiran kritis dan perlawanan terhadap kolonialisme.
Meskipun tujuannya awalnya adalah untuk mencetak tenaga medis yang dapat mengabdi kepada pemerintahan kolonial, STOVIA justru menghasilkan generasi muda yang tidak hanya terampil di bidang medis, tetapi juga memiliki kesadaran politik yang tinggi. Di sinilah pendidikan, meskipun terbatas dan terstruktur untuk kepentingan penjajahan, mulai bertransformasi menjadi benih-benih sarana pembebasan dari penjajahan.

Dari kesadaran itu, lahirlah Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Didirikan oleh dr. Soetomo dan para pelajar STOVIA lainnya. Organisasi ini menjadi simbol kebangkitan nasional. Boedi Oetomo memang tidak secara langsung menyerukan kemerdekaan, tetapi ia menandai perubahan besar: bahwa kaum pribumi mulai menyadari pentingnya organisasi, pendidikan, dan kesadaran kolektif dalam memperjuangkan masa depan mereka sendiri.
Meski saat itu Budi Utomo lebih menyerupai perkumpulan pelajar Jawa ketimbang sebuah gerakan nasional, aktivitasnya dianggap cukup mengganggu hingga pihak STOVIA sempat mempertimbangkan untuk mengeluarkan pemimpinnya. Namun, Roll yang saat itu menjabat sebagai direktur STOVIA turun tangan hingga akhirnya Soetomo tidak dikeluarkan, dan Budi Utomo tetap eksis hingga kian berkembang dan memantik semangat nasionalis yang lebih besar.
Roll adalah seorang Belanda totok dalam balutan sistem kolonial mereka yang menindas, namun ia mempunyai rasa kemanusiaan yang begitu tinggi, ditambah dengan gagasan politik etis yang mengidamkan pribumi berpendidikan adalah sejalan dengan idealismenya. Ia mengubah STOVIA menjadi lembaga yang lebih mandiri, menanamkan nilai-nilai kepribadian kuat dan rasa percaya diri kepada para siswanya agar tidak merasa inferior di hadapan dokter-dokter Belanda.
Tak mengherankan jika lingkungan akademik yang unggul ini melahirkan Budi Utomo. Alih-alih menentang, Roll justru mendukungnya karena Sutomo dan rekan-rekannya mewakili sosok ideal yang ingin ia bentuk melalui pendidikan. Beberapa alumni STOVIA bahkan melangkah lebih jauh. dr. Cipto Mangunkusumo, misalnya, menjadi tokoh penting dalam pergerakan politik yang lebih radikal bersama Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara dalam Indische Partij.
Mereka tak hanya menggunakan ilmu medisnya, tapi juga pena dan suara untuk menantang kolonial. Ada juga dr. Tjipto Subroto dan dr. Sutomo, yang perannya melampaui ruang praktik dokter, mereka mengobati masyarakat dari penyakit yang lebih besar yakni penindasan.
Mengunjungi makam H.F. Roll di Taman Prasasti memberikan perspektif yang menarik tentang bagaimana pendidikan dapat memainkan peran ganda yakni sebagai alat penguasaan dan sekaligus pembebasan. STOVIA bukan hanya sekadar sekolah kedokteran pertama, tapi juga lembaga yang menanamkan semangat dekolonisasi melalui pendidikan.
Melalui STOVIA, pendidikan Indonesia menemukan jalannya menuju kesadaran sosial dan kebebasan. Meskipun tujuannya pada awalnya terbatas pada kepentingan kolonial, dalam perjalanan waktu, STOVIA mengubah cara kita melihat pendidikan sebagai alat untuk memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan.
Kini, STOVIA telah menjadi bagian dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan bangunan tuanya berdiri sebagai Museum Kebangkitan Nasional. Namun di balik gedung itu, nama-nama seperti Soetomo, Cipto, dan Tjipto terus hidup bukan hanya sebagai dokter, tapi sebagai peletak fondasi bangsa.
