Alarm Merah Demokrasi Mahasiswa

Penulis: Siti Aisyah Pratiwi


Fenomena sepinya minat mahasiswa untuk mencalonkan diri sebagai Presiden Mahasiswa di Universitas Antakusuma bukanlah kejadian yang mengejutkan terutama bagi mereka yang telah mengamati dinamika politik kampus selama beberapa tahun terakhir. Ketika pendaftaran calon Presiden Mahasiswa dibuka, tidak ada satu pun yang mendaftarkan diri. Bahkan Panitia Pemilihan Umum Mahasiswa (PPUM) untuk mengadakan rapat terbuka yang mengundang seluruh elemen ormawa, mulai dari BEM fakultas hingga himpunan jurusan.

Rapat tersebut menjadi ajang diskusi darurat, tempat bertebarannya usulan demi usulan untuk menyelamatkan proses demokrasi kampus yang nyaris mati suri untuk kesekian kalinya. Salah satu opsi yang muncul dalam rapat, adalah mewajibkan setiap fakultas mengirim delegasi untuk mencalonkan diri. Namun, ide ini menuai banyak kritik karena dianggap sebagai solusi setengah hati yang cenderung menumbuhkan kepemimpinan terpaksa, bukan lahir dari kesadaran dan integritas individu.

Puncaknya, di tengah kebuntuan rapat, muncul satu sosok: Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen, yang dengan tegas mendeklarasikan kesiapannya mencalonkan diri. Dapat dikatakan kemunculan ini adalah angin segar bagi kelangsungan pemilu mahasiswa. Namun di sisi lain, ia justru menandai betapa kritisnya kondisi partisipasi di kampus kita. Satu calon dari sekian ribu mahasiswa? Itu bukan hanya statistik yang menyedihkan, tapi alarm keras bagi sistem demokrasi kampus.

Sepinya minat untuk mencalonkan diri sebagai Presiden Mahasiswa di Universitas Antakusuma bukan hanya soal kelelahan struktural semata. Akar yang lebih nyata dari permasalahan ini adalah minimnya eksistensi organisasi mahasiswa itu sendiri di mata mayoritas mahasiswa. Ormawa di kampus ini belum cukup menarik untuk menjadi pusat perhatian atau partisipasi. Banyak mahasiswa bahkan tidak tahu apa peran BEM, apa tugas himpunan jurusan, atau bagaimana cara terlibat di dalamnya.

Minimnya komunikasi yang berarti membuat organisasi mahasiswa seperti berjalan dalam ruangnya sendiri, terpisah dari kehidupan mahasiswa pada umumnya. Tanpa eksistensi yang kuat, tidak ada narasi yang mampu membangun ketertarikan. Tanpa ketertarikan, tidak akan ada partisipasi.

Di sisi lain, kita juga harus berani mengakui bahwa ada krisis karakter di kalangan mahasiswa Universitas Antakusuma. Identitas sebagai “mahasiswa” yang seharusnya identik dengan semangat perubahan, daya kritis, dan keberanian mengambil peran, kini tampak meredup. Mahasiswa cenderung pasif, pragmatis, dan lebih fokus pada kepentingan individual. Kampus seolah menjadi tempat singgah akademik, bukan ruang tumbuh bagi kepekaan sosial dan kepemimpinan.

Krisis karakter ini juga menyebabkan mudahnya faktor eksternal menyetir pemahaman mahasiswa, salah satunya lewat media sosial yang kini semakin marak. Dengan berbagai macam narasi yang menganggap remeh peran ormawa. Sehingga mahasiswa tidak melihat organisasi sebagai sesuatu yang penting, dan tidak pula merasa memiliki tanggung jawab kolektif, maka wajar jika tidak ada yang tergerak untuk pencalonan diri. Demokrasi tidak bisa hidup dalam ruang hampa. Ia membutuhkan karakter yang sadar, peduli, dan berani. Dan inilah yang sedang hilang dari kita.

Disisi lain, media sosial juga membawa pengaruh yang baik dalam kadarnya. Saat fenomena kurangnya minat ormawa ini terjadi, kemunculan akun Instagram dengan nama Aktivis Telat Bangun turut mewarnai. Akun Aktivis Telat Bangun seolah menyuarakan kerinduan mahasiswa akan demokrasi yang hidup, kritis, dan partisipatif. Di tengah lesunya minat mahasiswa terhadap ormawa, akun ini hadir sebagai cerminan diam-diam dari keresahan kolektif yang selama ini mungkin tidak tersuarakan di forum-forum resmi kampus..

Akun tersebut, dengan narasi yang tajam namun tetap bernada humor, menyuarakan keresahan kolektif yang selama ini terpendam. Postingan-postingannya menyindir lesunya kehidupan organisasi mahasiswa (ormawa), sepinya diskusi-diskusi kritis, dan budaya kampus yang tampak apatis. Yang lebih menarik, akun ini justru mendapat respons luas menandakan bahwa di balik diamnya ruang-ruang formal kampus, ada denyut kesadaran yang mulai bangkit, walau “telat bangun”.

Penting adanya regenerasi semangat aktivisme yang tidak hanya terpusat pada tokoh-tokoh formal, tetapi juga melalui gerakan non-struktural seperti media mahasiswa, komunitas diskusi, dan akun-akun sosial kritis seperti Aktivis Telat Bangun. Justru dari ruang-ruang ini bisa lahir pemikiran segar dan kepemimpinan alternatif. Upaya-upaya ini harus tetap dilakukan, karna jika tidak, demokrasi kampus akan terus berjalan seperti mayat hidup: ada wadahnya, tapi tanpa ruh.

Tinggalkan komentar