Teater Terakhir

Penulis: Mashayu Eka Ramadhani


Bangunan tua itu sudah berdiri seolah menantang waktu, catnya terkelupas, dindingnya lapuk, dan pintu kayunya mengerang saat dibuka. Debu yang beterbangan membuat kirana menahan napas. Tempat itu seperti berhenti hidup sejak lama.

Teater Victoria.

“Selamat datang di tempat paling angker di kota”, ujar Pak Herman sambil terkekeh, produser yang menghidupkan kembali pementasan klasik di gedung itu.

Kirana hanya membalas dengan senyuman kaku. Menjadi pemeran utama di Perpisahan Terakhir adalah peluang emas baginya. Teater Victoria akan dibuka kembali setelah ditutup selama lebih dari tiga puluh tahun, konon karena tragedi yang menimpa pemeran utamanya.

Tapi Kirana tak peduli pada bisik-bisik itu. Ia hanya ingin bersinar.

Selama beberapa minggu, rutinitas latihan memenuhi harinya. Panggung dibersihkan, lampu diuji, dan skenario dibedah. Namun, malam-malam di teater itu menghadirkan keganjilan. Kirana kerap mendengar langkah kaki dibalik tirai, dan perasaan diawasi dari kursi balkon tak pernah benar-benar hilang.

Hingga suatu malam, ia menemukan sebuah naskah tua terselip dibalik cermin rias yang retak. Halamannya menguning dan lusuh. Tapi yang membuat Kirana merinding ialah dialog dalam naskah itu tidak sama seperti versi resmi.

Lebih mengerikan lagi…..

Beberapa baris dialog mencerminkan kejadian nyata yang baru saja ia alami. Kata-kata yang ia ucapkan di luar panggung….entah bagaimana, tercatat disana.

Di halaman terakhir, tertulis kalimat dengan tinta merah…”Panggung adalah tempat kehidupanku berakhir. Kini, giliranmu.” R.L.

Kirana lalu mencoba mencari tahu siapa “R.L”. Namun tak ada catatan nama itu dalam sejarah produksi mana pun. Sampai akhirnya ia menemukan potongan koran tua…”Aktris Rosalinda Lestari Meninggal Tragis di Teater Victoria, Sehari Sebelum Pementasan.”

Hari pementasan pun tiba.

Lampu menyala. Penonton mulai memenuhi kursi dan Kirana berdiri di belakang panggung, menggunakan gaun putih yang tampak seperti milik Rosalinda dalam foto koran lama. Ia gemetar, tapi tetap melangkah dengan pasti.

Pertunjukan berjalan lancar. Kirana tampil luar biasa, seolah dirinya bukan lagi dirinya…seolah ada jiwa lain yang mengambil alih tubuhnya.

Lalu tibalah adegan terakhir.

Kirana berdiri sendirian di tengah-tengah panggung. Ia memejamkan mata dan melafalkan dialog dari naskah tua, yang tidak pernah dia hafal, tapi tahu persis.

Lalu, seketika…lampu padam.

Penonton mengira itu bagian dari pertunjukkan. Mereka bertepuk tangan. Namun ketika cahaya kembali menyala, panggung kosong.

Kirana lenyap. Yang tersisa hanyalah gaun putih tergantung rapi di balik tirai, dan naskah tua yang terbuka di lantai.

Dibawah kalimat terakhirnya, tertulis baris baru…. “Akhirnya aku tak sendiri lagi. Kini, dia akan terus bermain. Tanpa akhir…”

Tinggalkan komentar