
Penulis: Sholehuddin
Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Kalimantan Tengah menggelar kegiatan pelantikan dan Rapat Pimpinan Daerah (RAPIMDA) I pada Minggu, 22 Juni 2025. Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat koordinasi antar-LDK di berbagai perguruan tinggi sekaligus mempererat sinergi dakwah Islam di lingkungan kampus.
Acara dibuka dengan nuansa budaya lokal melalui pantun seloka, seni madihin, dan pencak silat, menandai bahwa dakwah kampus tidak lepas dari akar budaya daerah. Lantunan ayat suci Al-Qur’an dan lagu kebangsaan juga mengiringi pembukaan, menegaskan semangat keagamaan yang berjalan berdampingan dengan nasionalisme.
Ketua FSLDK Kalimantan Tengah menyebut pelantikan ini sebagai gerbang awal pergerakan yang lebih terarah. Senada, Ketua FSLDK Nasional, M. Fadhil Abdur Rahmi, S.I.Pol, menyampaikan pesan kuat dalam sambutannya. “Kita tidak dipertemukan oleh kekecewaan atau kemarahan, tetapi oleh semangat dan tanggung jawab besar di hadapan Allah SWT dan sejarah umat serta bangsa,” ujarnya.
Memperingati milad ke-39 FSLDK, acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng dan kuliah umum oleh Ketua MUI Provinsi Kalimantan Tengah, Dr. Ir. H. Syamsuri Yusup, M.Si. Dalam materinya bertema “Peran Pemuda Muslim dalam Peradaban di Kalimantan Tengah,” ia menekankan pentingnya berdakwah dengan kelembutan, ilmu, dan pengalaman.
“Dakwah bukan hanya soal berbicara, tapi menyentuh hati dengan keteladanan dan kontribusi nyata,” ungkap Syamsuri dalam sesi tanya jawab yang interaktif dan reflektif.
Kegiatan ini juga menghadirkan pemaparan strategi dari Ketua FSLDK Nasional terkait arah gerak organisasi. Tiga poin utama menjadi pijakan: positioning, characters, dan goal. FSLDK ditegaskan sebagai wadah amal dan pengabdian. Karakter gerakan mencakup enam nilai: konstruktif, kolaboratif, akseleratif, ekspansif, harmonis, dan berorientasi aksi. Tujuan akhirnya adalah membentuk Indonesia Madani yakni masyarakat yang religius, beradab, dan seimbang antara nilai spiritual, intelektual, dan sosial.
Salah satu isu krusial yang mencuat dalam diskusi adalah tantangan regenerasi dan reaktivasi anggota LDK. Banyak peserta menyuarakan keprihatinan atas minimnya keterlibatan anggota pasif serta perlunya strategi baru untuk menarik minat generasi muda kampus.
Menanggapi hal ini, Ketua FSLDK Indonesia merujuk kembali pada nilai-nilai dasar gerakan dakwah. “Eksistensi LDK akan nyata saat manfaatnya dirasakan kampus dan lingkungan. Kita butuh program yang menyentuh sisi spiritual dan sosial, menjadikan LDK sebagai rumah yang menyenangkan dan membentuk karakter,” tegasnya.
Sayangnya, pelaksanaan RAPIMDA I yang dijadwalkan usai sesi kuliah umum harus ditunda. Ketua FSLDK Kalimantan Tengah, Nikma Yantie, S.Pd., mengonfirmasi hal tersebut dengan alasan keterbatasan waktu dan kesiapan teknis. Meski demikian, rangkaian acara sebelumnya tetap meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta.
Salah satunya disampaikan oleh Alfian Nur, Ketua LDK Al-Fatih, Universitas Antakusuma. Ia menilai kegiatan tersebut membawa perspektif baru dalam mengevaluasi arah gerak organisasinya. “Saya mendapat banyak wawasan, khususnya dalam membenahi silaturahmi antaranggota dan menentukan arah gerak ke depan,” ujarnya. Namun, ia juga mencatat bahwa keikutsertaan peserta dan kesiapan fasilitas masih bisa ditingkatkan pada pelaksanaan selanjutnya.
Lebih dari sekadar seremonial, kegiatan FSLDK ini menunjukkan bagaimana organisasi dakwah kampus berperan sebagai ruang pembinaan sekaligus penggerak perubahan. Di tengah tantangan zaman, gerakan ini membentuk mahasiswa yang kokoh dalam iman, cerdas dalam berpikir, dan tangguh dalam aksi.
FSLDK bukan hanya membangun organisasi, namun mereka sedang membentuk arah hidup generasi. Di tengah derasnya arus modernisasi, dakwah kampus hadir bukan untuk mundur, melainkan untuk memperkuat barisan dan menghidupkan kembali semangat Islam yang inklusif dan membumi. Karena dakwah bukan hanya tugas sebagian, tetapi panggilan bagi siapa pun yang peduli akan masa depan umat dan bangsa.
