Mengenal Peribahasa Kotawaringin Yang Mulai Dilupakan

Didin (tengah) merupakan salah satu dari sedikit generasi yang masih berupaya melestarikan pribahasa di Kotawaringin.

Penulis: Siti Aisyah Pratiwi


Semasa kecilnya, Muhibbuddin alias Didin (43) seorang pria baruh baya sangat akrab dengan peribahasa khas Kotawaringin, tempat ia lahir dan dibesarkan. Namun kini, peribahasa itu sudah jarang dan sulit ia temui, terutama dikalangan anak muda.

Didin bercerita, tetua jaman dulu sering menggunakan peribahasa-peribahasa dalam keseharian mereka. Peribahasa hadir sebagai cara halus untuk menasihati, menegur, atau sekadar memperindah tutur.

“Setali tiga uang, kalian tau pribahasa itu?,” tanya Didin dalam sebuah percakapan santai bersama sekelompok anak muda kelurahan kotawaringin Hulu, Kecamatan Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, di sebuah kedai kopi, Minggu (07/09/2025) malam.

Pertanyaan itu sejenak memecah obrolan. Beberapa hanya saling pandang, lalu tersenyum ragu. Tak ada yang benar-benar tahu arti dari ungkapan itu.

Didin menjelaskan bahwa peribahasa tersebut makna sederhananya adalah dua hal yang berbeda tapi nyaris sama. Pendahulu biasa memakainya untuk menggambarkan sifat dua orang yang serupa.

Kotawaringin Lama punya sejarah tutur yang unik. Bahasanya bukan murni satu akar, melainkan hasil percampuran. Dasarnya berasal dari bahasa Dayak, lalu menyerap pengaruh bahasa Banjar dan Jawa.

Proses itu terjadi sejak masa kesultanan, ketika Kotawaringin dipimpin oleh Sultan dari Banjar. Dan tokoh agama yang disegani, Kiai Gede, datang dari Jawa.

Dari pertemuan itu, lahir sebuah bahasa yang mencerminkan jejak sejarah panjang masyarakatnya. Banyak peribahasa yang merekam cara pandang hidup masyarakat. Selain `setali tiga uang`, masih ada sejumlah ungkapan lain yang kini mulai jarang terdengar.

Salah satunya, peribahasa `ceramin pocah asal muka tak baobah` yang bermakna, meski orang lain berbuat jahat atau menyakiti kita, sebaiknya kita tetap tenang dan tidak terbawa emosi.

Bagi masyarakat Kotawaringin, peribahasa ini menjadi pengingat bahwa harga diri tidak ditentukan oleh perlakuan orang lain, melainkan oleh cara kita menjaga sikap.

Juga ada peribahasa `kapak menyolami belayung`, Secara sederhana, ia menggambarkan keadaan ketika seseorang diberi tugas untuk memanggil temannya, tetapi justru ikut menghilang bersama yang dicari.

Dalam arti luas, peribahasa ini menyinggung sikap lalai atau abai terhadap tanggung jawab. Kemudian juga ada pribahasa `Menarik haur dolok hujung.` ungkapan ini dipakai untuk menggambarkan pekerjaan yang sia-sia, usaha yang dilakukan tidak membawa hasil karena cara yang ditempuh keliru.

Odeng bersama rekan seperjuangan yang masih berupaya melestarikan budaya Kotawaringin

Ada pula peribahasa `bukan manta kurang tunu, bukan gusang kurang balik` Secara harfiah, manta berarti mentah yang harus benar-benar matang saat dibakar, sementara gusang adalah hangus yang harus sering dibalik agar merata.

Ungkapan ini dipakai ketika seseorang sudah berkali-kali dinasihati, tetapi tetap saja tidak berubah. Bagi orang Kotawaringin, peribahasa ini menjadi sindiran halus bahwa nasihat saja tidak cukup jika tidak disertai kemauan untuk memperbaiki diri.

“Peribahasa-peribahasa itu mulai hilang rata-rata di atas tahun dua ribuan,” ucap Didin sambil menatap ke arah cangkir kopinya, ia seperti menggali kembali ingatannya. Mengingat-ingat perjalanan hidupnya yang menyaksikan sendiri bagaimana adat budayanya mulai pudar.

Didin percaya bahwa pergeseran bahasa ini karna kelalaian dalam menyikapi era modern, tidak memperhatikan secara khusus budaya yang dimiliki sehingga mudah digerus zaman.

Khazanah bahasa Kotawaringin yang meredup bukan hanya pada peribahasa. Sapaan akrab yang dulu hidup di tengah keluarga dan masyarakat kini juga mulai terlupakan. Julak, panggilan untuk anak pertama, misalnya, kini jarang terdengar di bibir anak muda, tergantikan dengan panggilan umum yang terasa datar.


Padahal bahasa Kotawaringin sendiri sangat unik dan mempunyai aturan sendiri soal sapaan kekerabatan. Julak untuk bibi atau paman yang merupakan anak pertama. Biasanya yang memanggil dengan panggilan itu adalah adik atau ponakannya, atau bahkan orang lain yang tidak ada hubungan darah hanya demi menjunjung tinggi rasa hormat pada yang lebih tua.

Untuk anak kedua, panggilannya adalah ongah. Ande atau Andi untuk anak ketiga. dan busu untuk anak terakhir. Jika ia lahir diantara Ande dan Busu, anak keempat tapi bukan yang terakhir, maka dia punya panggilan khusus lagi. Bisa dipanggil utih jika berkulit putih atau paling putih diantara saudara-saudaranya.

Selanjutnya, bisa dipanggil itam jika berkulit hitam, kacil jika berbadan kecil, andak jika bertubuh pendek, anjang jika bertubuh panjang atau tinggi dan anis jika memiliki paras yang manis. Dan jika ada anak lagi setelah anak bungsu, yang kelahirannya tidak direncanakan sebelumnya maka bisa disebut acil.

Sapaan-sapaan ini dulu terasa hangat dan menegaskan hubungan sosial serta rasa kekeluargaan. Namun kini, anak muda lebih akrab dengan panggilan umum yang kosong seperti om dan tante, sehingga nuansa keakraban khas bahasa Kotawaringin perlahan memudar.

“Tiga tahun belakangan, kami sedang berusaha menimbulkan lagi bahasa-bahasa yang mulai hilang ini” ucap Yasin (25)

Namun, di balik kekhawatiran itu, ada sosok seperti Yasin (25) pemuda yang berperan dalam upaya melestarikan adat dan bahasa Kotawaringin. Ia aktif di dunia pendidikan, khususnya dalam pengembangan mata pelajaran dialek Kutaringin di Kabupaten Kotawaringin Barat. Yasin memberikan pengetahuan yang masih ia punya sebagai bahan mata pelajaran yang akan disalurkan guru-guru kepada siswa nya.

Tinggalkan komentar