
Penulis: Siti Aisyah Pratiwi
Rusdi (30), atau akrab disapa Odeng, adalah seorang pemuda pelopor di Kecamatan Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Ia mempunyai cita-cita besar untuk menghidupkan kembali seni musik dambus, dan mempertahankannya untuk masa depan.
Seni musik dambus di daerah Kotawaringin Lama, dalam dua dekade terakhir seperti mati ditelan zaman. Alat musik petik tradisional ini biasanya dimainkan saat ada acara adat, seperti pernikahan. Namun, sekarang petikan senarnya sudah jarang terdengar. Dan orang yang bisa memainkannya pun mulai sulit dicari.
Embusan angin sejuk melengkapi suasana musim hujan di Kotawaringin Lama, Selasa (9/9/2025) malam. Di Kafe Dambus Kita milik Odeng, ia terlihat sibuk meracik kopi pesanan pembeli. Malam itu, suasana kafe terasa hangat. Dinding-dindingnya yang dihiasi pajangan alat musik dambus yang khas, sementara para pemuda setempat ramai berdatangan.
Odeng beristirahat sejenak setelah menyelesaikan pekerjaannya. Saat mengobrol, ia menceritakan perjalanan panjangnya bersama teman-teman ketika berjuang menghidupkan kembali seni musik dambus yang mulai terlupakan.
“Dambus ini mulai jarang dimainkan sejak tahun dua ribu tiga, itu pun yang bisa hanya orang tua saja,” tutur Odeng sambil menyeruput kopi yang ia buat untuk dirinya sediri. Kondisi yang ia ceritakan kemudian membuat dirinya dan teman-teman tergerak untuk mempelajari alat musik Dambus.
Berdasarkan ceritanya, 2018 adalah awal pergerakan mereka dimulai. Saat itu, ada satu pemuda bernama Mada. Ia adalah seorang siswa yang Odeng kenal saat bekerja sebagai staf tata usaha di SMPN 1 Kotawaringin Lama.
Mada tertarik dengan alat musik dambus, sampai menjadi anggota sebuah sanggar kesenian untuk mempelajari dambus. Ketika sudah bisa memainkannya, ia kemudian membeli alat musik dambus ini. Odeng, dengan tangan kreatifnya, mencoba meniru dambus yang Mada beli dan membuat miliknya sendiri.

Dambus jadi, Odeng pun ikut belajar memainkannya sebagai alat musik. Namun, alih-alih ke sanggar kesenian, ia memilih belajar langsung pada tetua yang masih ada. Bersama teman-temannya, kala itu yang mulai tertarik juga dengan dambus, Odeng berhasil menaklukkan alat musik ini.
Dambus yang dimainkan oleh masyarakat Kotawaringin Lama, memiliki ciri khas yang berbeda dengan alat musik dambus di tempat lain. Bunyinya lebih halus dan mendayu-dayu. Pantingannya (petikannya) pun memiliki nama-nama yang unik. diantaranya adalah, patah mengunang, grigit manis, bintang tujuh, seluang mudik.
Ditengah proses belajar, Odeng bersama teman-temannya memutuskan untuk membangun sebuah komunitas sebagai tempat perkumpulan mereka. Kala itu, yang menjadi pegangan mereka adalah, bergerak berdasarkan panggilan hati. Tidak ada yang memiliki komunitas ini atau mengetuainya, namun mereka berjuang dan berjalan bersama. Sehingga terbentuklah komunitas itu dengan nama Dambus Kita.
Setelah cukup belajar, Dambus Kita akhirnya dikenal oleh banyak orang. Mereka diundang untuk tampil. “Kami dulu, juga sempat diremehkan. Tapi kami buktikan kami bisa” ucap Odeng mengingat pengalaman perjuanga pertamanya ketika tampil. Yang menandakan proses melestarikan budaya ini tidak selalu mulus dan tidak mendapat dukungan melainkan dari tekad teman- temanya serta kekutan pangilan hati dari masing- masing.
Setelah mulai dikenal, Odeng dengan kemampuannya mencoba banyak peluang. Mulai dari menerima permintaan orang untuk dibuatkan Dambus. Sampai akhirnya, karya odeng terjual sampai ke luar kota.
Demi mempertahankan filosofis dari dambus itu sendiri, Odeng tidak menerima sembarang pesanan. Ia memilih untuk berdiskusi terlebih dahulu dengan pemesan, membicarakan keperuntukan dambus ini, apakah dipakai sebagai alat musik atau hanya pajangan. Selain itu, juga menyesuaikan dengan karakteristik pemesan dan tujuannya untuk memiliki dambus itu apa.
Peluang lain yang tidak di sia-siakan oleh Odeng, adalah mengikuti seleksi program pemuda pelopor. Ia berhasil meraih gelar sebagai pemuda pelopor di bidang agama, sosial dan budaya. Juara 1 di tingkat kabupaten, juara 1 di tingkat provinsi, juara 1 di tingkat nasional dan juara 3 di tingkat internasional.
“Bang Odeng ini rajin orangnya, tidak bisa diam. Dia juga leader kami, yang mengarahkan kami,” ucap Yasin (25), salah satu teman seperjuangan Odeng di Dambus Kita. Odeng terkenal sebagai seorang pemuda pelopor di lingkungannya. Dan gelar yang ia dapat di tingkat internasional menjadi hal yang membuatnya merasa memiliki tanggung ajawab yang besar untuk menjadi seorang pelopor.
Selain dambus, Odeng bersama teman-temannya juga mempelajari kesenian lain. Dan menyebut perkumpulan atau komunitas mereka dengan sebutan Melayu Muda Kutaringin Lama. Mereka mempelajari seni bersilat, hadrah, japen dan dambus itu sendiri. Selain memenuhi undangan acara-acara adat, Odeng dan teman-teman juga menerima siapa saja yang ingin belajar untuk ikut lomba dan semacamnya.

Dalam perjalanan mempelajari kesenian daerah Kutaringin atau Kotawaringin, Odeng ditemani teman-teman seperjuangannya, termasuk Yasin, merintis sebuah bisnis. Ia mendirikan kedai kopi, yang mulanya hanya ber-atap-kan terpal, sampai kini menjadi sebuah kedai kopi dengan arsitektur yang khas. Kedai kopi itu kemudian mereka beri nama Coffe Dambus Kita.
Dalam merintis kedai kopi ini, perjalanan yang ia lalui juga tidak mudah. Saat mengikuti pelatihan menjadi barista, Odeng harus tidur di depan konter saat malam hari di Pangkalan bun. Dan kemudian mengikuti pelatihan lagi di pagi harinya.
Selesai pelatihan, perjuangan panjang terus Odeng lakukan. Ia percaya bahwa, melakukan sesuatu itu tidak harus dengan ambisi yang berlebihan. “Cukup jalani dengan ikhlas dan berdasarkan panggilan hati” ucapnya.
Dari prinsip itulah lahir harapan yang selalu ia jaga. “Harapannya, budaya-budaya kita tetap lestari. Tidak mati lagi. Dan ada yang meneruskannya sesuai panggilan hati” Odeng bertutur dengan mimik penuh harapan. Semangat yang ia rawat hingga kini, salah satunya berasal dari petuah guru dambusnya yang meminta agar dambus ini jangan sampai ditinggalkan.
