Eksibisi Film Pendek Lokal Upaya Memperkaya Literasi Film Daerah

Layar Itah Pangkalan Bun Menyelenggarakan Eksibisi & Apresiasi Workshop Film Pendek di Aula Sangga Banua, Kotawaringin Barat

Penulis: Siti Aisyah Pratiwi


Layar Itah Pangkalan Bun menggelar acara Eksibisi dan Apresiasi Workshop Film Pendek pada Senin (16/02). Acara yang berlokasi di Aula Sangga Banua ini mewadahi siswa-siswi Sekolah Menengah Atas di Pangkalan Bun dalam menyalurkan kreativitas mereka di bidang perfilman.

Layar Itah, sebuah komunitas yang memiliki perhatiandi dunia perfilman Kotawaringin Barat, awalnya mengadakan Workshop Film Pendek Layar Itah pada 12-14 Januari 2026. Workshop atau lokakaya tersebut diikuti oleh beberapa pelajar dari SMAN 1 Pangkalan Bun, SMAN 3 Pangkalan Bun, SMKN 1 Pangkalan Bun dan SMK Muhammadiyah Pangkalan Bun sebagai pesertanya.

Para peserta difasilitasi untuk memproduksi film karya mereka sendiri. Mereka diarahkan mulai dari menulis sinopsis, kemudian menentukan timeline, mencari talent, sampai proses produksi film. Ada 4 judul film, yaitu Irama Ka Luka, Ke(Honda’), Hari Nahas dan Kas RT yang kemudian ditayangkan dalam Eksibisi.

Salah satu peserta lokakarya dari SMAN 1 Pangkalan Bun, Zalika Muthia Andini (17) menceritakan tantangan yang dihadapinya sebagai produser dari film yang berjudul Irama Kaloka. “Kami harus belajar bagaimana cara kerjasama tim yang baik, karena bikin film itu bukan sendiri, kami disini tim. Kami disini belajar cara mengatasi masalah dalam tim,”

Lokakarya dan Produksi Film Pendek ini dirancang oleh para tokoh dibalik Layar Itah untuk mendorong Industri perfilman berbasis lokal. Dengan tujuan besar mendukung setiap sisi dari sirkel perindustrian di Kobar. “Mulai dari industri percetakan, karna film pasti cetak poster. Lalu kamera dan komputer, karna butuh kamera untuk take video dan butuh komputer untuk editing. Jadi, Industri film jalan, sirkelnya juga jalan,” Jelas Eden (43), salah satu tokoh di balik Layar Itah.

Eden juga menjelaskan bahwa proyek  ini diinisiasi oleh beberapa pihak secara kolektif. Seperti Media Laman Kita, Positive Picture, Pongo Production dan beberapa pihak lain yang juga ikut mendukung. Mulai dari finansial sampai dengan tenaga dan pikiran. 

Budi Baskoro (45) dari Laman Kita sekaligus ketua pelaksana dalam kegiatan ini. Ia menjelaskan bahwa tantangan besar dalam proyek ini adalah ketika menyadari bahwa literasi tentang film di Kobar belum banyak. Dengan itu informasi tentang pembuatan film jadi lebih sedikit referensinya. “Menyampaikan informasi ini ke peserta itu agak susah. Makanya berulang kali, setelah workshop pun belum cukup. Sehingga harus ada sesi konsultasi tambahan,” Jelas Budi.

Kemudian Budi menceritakan tantangan lain yang dihadapi adalah ketika peserta berdinamika dengan ide. “Ide itu yang mahal. Ketika peserta harus menimbang ide ini visible atau tidak kalau dijadikan film. Menimbang perannya, pemilihan talent yang harus bisa menerjemahkan gagasan, dan setting ruangnya,” jelas Budi.

Budi berharap agar kegiatan semacam ini bisa terus ada dan mendapat dukungan dari berbagai pihak, “screening film atau diskusi film itu kalau sering dilakukan bagus untuk memperkaya literasi film khususnya di Kotawaringin Barat,” pungkasnya.


Editor: Thata Debora Agnessia

Tinggalkan komentar