Air Sekonyer Tak Lagi Memberi Harapan

Kontras warna di pertemuan anak Sungai Sekonyer menunjukkan perbedaan kualitas air, sedimen, atau bahkan aktivitas di wilayah hulu masing-masing aliran.

Penulis: Putri


Sungai Sekonyer yang terletak di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, merupakan jalur utama transportasi air menuju Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) serta kawasan restorasi Jerumbun. Sungai ini menjadi akses penting bagi aktivitas wisata, penelitian, konservasi, hingga mobilitas masyarakat di sekitar kawasan.

Pada bagian alur utama, warna air Sungai Sekonyer tampak cokelat dan sedikit keruh, yang umumnya dipengaruhi oleh kandungan sedimen dari wilayah hulu. Namun, ketika aliran mulai menyempit ke arah Camp Leakey, warna air berubah menjadi hitam pekat. Perbedaan kontras ini dapat terlihat jelas di titik-titik pertemuan aliran.

Masyarakat setempat menyebut fenomena tersebut sebagai “sungai cabang”, yakni pertemuan antara aliran utama dengan anak sungai yang memiliki karakter air berbeda. Warna hitam pada aliran yang lebih kecil umumnya berasal dari air gambut, yang kaya akan bahan organik dari kawasan hutan rawa di sekitarnya. Perbedaan warna ini menjadi penanda alami kondisi ekosistem di sepanjang bentang Sungai Sekonyer serta menunjukkan keragaman karakter lingkungan pada setiap alirannya.

Hal ini dipaparkan oleh staf Friends of The People, Nature and Forest (FNPF) Rusdiansyah (68) yang bekerja di kawasan penyangga taman nasional, Jerumbu pada Kamis (5/02/26). Ia menegaskan air sungai berwarna hitam karena dedaunan yang gugur dan akar-akar di kawasan hutan gambut. “daun dari pohon berjatuhan akhirnya dengan proses pembusukan alami menghitamkan air,” ujarnya. Dalam proses pembusukan ada zat alami seperti tanin larut kedalam air begitu pula dengan akar pohon yang terendam air. 

Namun ironisnya, sebagian kawasan penting dari TNTP, sungai ini tidak lagi berwarna pekat seperti teh. Aliran sungai utama menjadi keruh dan terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. Hal ini ketika ditelusuri lebih jauh terjadi karena aktivitas manusia yang intensif dan terus menerus hingga mengganggu kehidupan ekosistem yang ada.

Salah satu penyebabnya ialah aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang berlangsung di hulu Sungai Sekonyer sejak 1990-an. Selama puluhan tahun air sungai bercampur merkuri kemudian menyimpan endapan dengan skala yang besar warisan dari para penambang dan menyebabkan pasir menumpuk di sungai. “Ada banyak sedimen dan banyak pasir di sungai setelah itu,” terang Katheleen (72) volunteer FNPF asal Colorado, Amerika Serikat (AS).

Kondisi saat ini sangat mengkhawatirkan, tidak hanya karena kondisi airnya, bahkan ikan-ikan yang ada di sungai juga menjadi sorotan. Aktivitas pertambangan emas ilegal selalu menggunakan merkuri sebagai bahan pengikat emas dari hasil tambang. Hal tersebut semakin menyanyat hati ketika masyarakat masih mengkonsumsi ikan sungai yang diduga terkontaminasi merkuri.

“Satu hal yang aku harap bisa kita lakukan lagi adalah memeriksa berapa level maksimal merkuri di dalam ikan itu, karena hal ini membuatku khawatir,” terang Kathleen. Kandungan merkuri yang ada dalam ikan memang tidak terlihat secara langsung, tidak sakit ataupun busuk. Dampak yang dirasakan juga tidak terjadi secara langsung, melainkan menumpuk di saraf manusia selama bertahun-tahun.

Penggunaan pupuk kimia untuk perkebunan sawit yang kemudian ikut larut ke sungai menjadi faktor lain dari keruhnya air sungai. Pembuangan limbah sawit juga menjadi penyebab sungai ini berubah warna menjadi keruh. “Selain dari tambang, limbah sawit juga dibuang ke Sungai besar” ujar seorang staf FNPF lainnya, Kaspul (48).

Kondisi ini nampak serius karena warga Sekonyer mulai kekurangan air bersih. Di mana dulu mereka menggunakan air sungai untuk kehidupan sehari-hari, kini sudah tidak bisa lagi karena air sudah keruh dan tercemar. Sebelum tercemar, air sungai sekonyer dapat diminum karena masih sangat bersih. “Dulu orang Tanjung Harapan itu minumnya air Sungai Sekonyer, sekarang tidak lagi, karena airnya rusak, kotor, keruh tak layak minum,” ungkap Rusdiansyah.

Kondisi ini harusnya menjadi perhatian karena tidak hanya perubahan warna sungai yang sangat signifikan. Tapi juga kondisi makhluk hidup yang ada di sungai yang kemudian dikonsumsi oleh masyarakat. “Aku berharap aku bisa melihat sungai itu sebelum semuanya terjadi, sebelum perkebunan sawit, sebelum aktivitas pertambangan. Aku harap aku bisa melihat sungai itu karena aku pikir dulu airnya lebih jernih,” pilu Katheleen.

Tinggalkan komentar