
Penulis: Muhtaram
Di tengah riuh mesin klotok yang membelah Sungai Sekonyer, ada sebuah kawasan sunyi yang menjadi benteng terakhir bagi kehidupan hutan. Namanya Jerumbun, terletak di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, tepatnya di Desa Sekonyer, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Jerumbun merupakan kawasan konservasi strategis yang menjadi habitat penting bagi satwa endemik Kalimantan, seperti orangutan (Pongo pygmaeus) dan bekantan (Nasalis larvatus). Kawasan ini tidak sekadar hamparan hijau, melainkan wilayah penyangga utama yang menjaga keseimbangan ekosistem taman nasional dan melindungi habitat satwa dari tekanan aktivitas manusia di sekitarnya.
Lebih dari sekadar benteng ekologis, Jerumbun adalah sistem kehidupan. Keberadaannya berperan menahan laju ekspansi perkebunan, pemukiman, serta berbagai bentuk degradasi yang berpotensi langsung merusak kawasan inti hutan.
Namun kondisi Jerumbun tidak selalu seperti sekarang. Kawasan ini pernah menjadi lahan kritis akibat pembalakan liar dan kebakaran hutan. Titik terburuk terjadi pada 2015, ketika sekitar 15 hektare lahan hangus terbakar. Setahun kemudian, upaya pemulihan mulai dilakukan melalui penanaman kembali dan rehabilitasi ekosistem.
Rudiansyah (68), relawan yang telah lama terlibat dalam kegiatan konservasi di Jerumbun, mengingat masa-masa sulit tersebut. “Setelah kebakaran 2015, kami mulai melakukan penanaman kembali pada 2016 untuk memulihkan kawasan,” ujarnya, Kamis (5/2/26).
Sebagai zona penyangga (buffer zone), Jerumbun memiliki fungsi krusial. Tanpa kawasan ini, tekanan dari ekspansi perkebunan sawit dan aktivitas manusia akan langsung menghantam habitat alami satwa liar, terutama orangutan Kalimantan yang semakin terdesak ruang hidupnya.
Aktivitas konservasi di Jerumbun tidak berhenti pada penanaman pohon. Kegiatan yang dilakukan mencakup pembibitan dan penanaman spesies endemik seperti blangiran, meranti, pulai, serta berbagai jenis pohon buah yang menjadi sumber pakan alami bagi primata. Upaya ini menggabungkan pendekatan ilmiah dengan keterlibatan masyarakat lokal, yang bekerja bersama relawan dalam proses pemulihan ekosistem.
Selain fungsi ekologis, Jerumbun juga berkembang sebagai ruang pembelajaran. Kawasan ini menjadi destinasi edukasi bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin memahami dinamika ekosistem lahan basah dan pentingnya restorasi hutan. Kehadiran program edukasi ini menunjukkan bahwa menjaga hutan memberikan manfaat ekologis sekaligus nilai ekonomi berkelanjutan.
“Jerumbun adalah bukti bahwa hutan yang rusak bisa kembali bernapas jika diberi kesempatan,” ungkap salah satu relawan.
Tanpa upaya restorasi seperti yang dilakukan di Jerumbun, kawasan Taman Nasional Tanjung Puting berisiko terisolasi menjadi pulau hijau di tengah lanskap monokultur. Menjaga Jerumbun berarti mempertahankan penyangga kehidupan bagi satwa liar, bagi keseimbangan ekosistem, dan bagi bumi yang kian menghadapi tekanan krisis iklim.
Di tengah arus perubahan yang cepat, Jerumbun mengingatkan satu hal sederhana: hutan yang diberi waktu dan kepedulian masih memiliki kesempatan untuk pulih dan terus menjaga napas kehidupan.
