Relawan Amerika Pilu Membiru Karena Tambang di Jerumbun

Kathleen relawan FNPF Kalimantan dari Colorado, Amerika Serikat menyumbang masa tua nya untuk berjuang membela lingkungan dan keadilan sosial

Penulis: Feny Catri Masida


Relawan Friends of The Nature, People and Forest (FNPF) Kalimantan asal Paonia, Colorado, Amerika Serikat, Kathleen Howe (72), mengungkapkan adanya aktivitas pertambangan ilegal di sekitar kawasan Sungai Sekonyer dan sekitar Jerumbun, wilayah penyangga Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) yang diduga menimbulkan dampak lingkungan dan sosial bagi warga setempat.

Kathleen ketika diwawancarai pada Kamis (5/02/26) menerangkan dengan gamblang bahwa aktivitas pertambangan tersebut berskala kecil dan awalnya dilakukan oleh satu keluarga hingga berkembang menjadi lebih besar yang beroperasi di kawasan Jerumbun. Namun, kegiatan itu disebut telah menyebabkan sejumlah lahan di tengah hutan berubah menjadi area berpasir akibat penggalian intensif.

Di bagian atas kawasan Jerumbun, terdapat dua kamp berukuran cukup besar yang digunakan untuk aktivitas tambang. Menurut Kathleen, para pekerja melakukan penggalian sedalam kurang lebih tiga hingga meter seperti tinggi atap rumah, dengan sekitar tiga hingga empat lubang galian. Ia juga mengungkapkan adanya pekerja yang tewas akibat tertimbun material galian, meski sudah belasan tahun belum ada keterangan resmi terkait hal tersebut.

Menariknya, Kathleen juga menyinggung tentang laporan Global Mercury Assessment dari PBB pada 2015 yang menempatkan Indonesia pada posisi kedua sebagai negara yang menggunakan merkuri terbanyak di dunia terutama dalam aktivitas pertambangan emas skala kecil/PESK. Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan besar tentang dampak kesehatan dan regulasi yang mengontrol pengedaran merkuri.

Meskipun pada 2017 Indonesia telah meratifikasi Konvensi Minamita melalui regulasi turunan yakni Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2017, namun melansir dari Benua.id tindak lanjut aturan ini masih menemui kesulitannya dalam menekan perdagangan ilegal merkuri terutama di daerah terpencing yang sering kali digunakan untuk kegiatan pertambangan.

Kathleen juga menyoroti kondisi anak-anak yang tinggal di area pertambangan. Ia menilai lingkungan tempat tinggal mereka tidak tertata dan berpotensi membahayakan keselamatan. “Di pemukiman tambang, anak yang sedang tertidur dan di sebelahnya terdapat kompor, seperti hidup dalam kesulitan” ungkapnya bergetar.

Sumber air yang digunakan warga setempat untuk kebutuhan sehari-hari juga diduga tercemar zat merkuri dari aktivitas pertambangan. Menurutnya, kondisi tersebut telah menjadi bagian dari pola kehidupan masyarakat di kawasan itu. Ia menambahkan, anak-anak di wilayah tersebut belum mendapatkan akses pendidikan yang layak karena tidak tersedia fasilitas sekolah.

Kathleen menyatakan keinginannya untuk membangun sekolah sederhana di kawasan tersebut, setidaknya untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak. “Jika mereka bisa berbahasa Inggris, setidaknya itu dapat membuka peluang untuk keluar dari kemiskinan,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Kathleen juga mengungkapkan temuan emas berbentuk menyerupai pisau yang telah terukir rapi. Pada sisi kiri terdapat ukiran gambar Paus yang menjabat pada masa Perang Dunia II, sementara di sisi kanan terdapat gambar Kota Vatikan.

Ia mengaku heran karena benda tersebut ditemukan di kawasan hutan Jerumbun yang terpencil dan harus ditempuh dengan perjalanan menyusuri sungai selama kurang lebih empat jam. Kathleen menduga emas tersebut berasal dari pihak tertentu, namun hingga kini belum ada informasi resmi mengenai asal-usul temuan tersebut.

Tinggalkan komentar