Tak Bisa Terbang, Elang di Jerumbun Dijuluki Ayam

Seekor Elang Bondol (Haliastur indus) merupakan salah satu satwa yang berada di kamp Friends of Nature, People and Forest (FNPF) Jerumbun, Kumai, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Penulis: Siti Nurhayati


Seekor Elang Bondol (Haliastur indus) di kamp Friends of Nature, People and Forest (FNPF) Jerumbun, Desa Sekonyer, Kecamatan kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, memiliki kondisi yang memprihatinkan hingga dijuluki Elang Ayam.

Sang elang tidak lagi mampu terbang dan selalu terjatuh setiap kali mencoba mengepakkan sayapnya. Elang Bondol merupakan satwa yang dilindungi karena populasinya yang terancam punah akibat rusaknya habitat alami dan tingginya angka perburuan liar. 

Elang Bondol ini merupakan hasil sitaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali yang berhasil menggagalkan upaya memperjualbelikan secara ilegal oleh  oknum yang tidak bertanggung jawab dalam jaringan perdagangan satwa liar. Menariknya, elang ini memiliki persebaran yang cukup luas di indonesia, meliputi Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.

Setelah berhasil diselamatkan dari tangan pelaku, elang bondol segera di evakuasi dan diserahkan kepada pihak FNPF Bali untuk mendapatkan perawatan rutin di salah satu habitat aslinya di Kalimantan. “Elang ini dipindahkan dari Bali ke Jerumbun pada Desember 2025 dengan pendampingan dokter hewan untuk persiapan rilis,” ujar Tara Koordinator Relawan FNPF di Jerumbun, pada Kamis (5/2/2026).

Tara menekankan, saat ini terdapat tiga ekor Elang Bondol yang masih menjalani proses pemulihan di Camp FNPF. Meskipun kondisi satu ekor di antaranya cukup memprihatinkan, pihaknya terus berupaya melakukan pemulihan maksimal. “Sebelumnya, kami telah berhasil melepasliarkan satu ekor Elang Brontok dan satu ekor Elang Bondol kembali ke habitat aslinya,” tambah Tara.

Tara menjelaskan bahwa kondisi memprihatinkan ini merupakan dampak nyata dari praktik perdagangan ilegal yang pernah dialami sang elang bondol. Penurunan kemampuan terbang yang drastis diduga kuat akibat masa pengurungan yang terlalu lama dalam ruang sempit selama menjadi objek perdagangan satwa liar secara ilegal.

Staf FNPF Kalimantan, Yuni Kartikasari, mengungkapkan bahwa pihaknya kini fokus melakukan berbagai upaya untuk memancing kembali insting liar burung elang ini. Salah satu langkah utamanya adalah pemantauan rutin dan pemberian pakan harian agar elang bondol dapat beradaptasi secara bertahap dengan lingkungan alaminya.

“Oleh karena itu, elang bondol akan terus dipantau dan diberi pakan harian agar dapat beradaptasi secara bertahap,” jelas Yuni. Pemberian pakan berupa ikan yang dilakukan secara rutin setiap pagi dan siang hari bertujuan untuk memastikan kesehatan elang tetap terjaga.

Meski secara fisik terlihat sehat, Yuni menekankan bahwa masa depan elang bondol di habitat aslinya masih dibayangi ancaman besar. Faktor utama yang mengancam populasi burung pemangsa ini adalah maraknya perburuan liar untuk kepentingan perdagangan dan konsumsi, serta terus menyusutnya luas habitat hutan di Kalimantan.

Guna mengantisipasi hal tersebut, kamp  FNPF Kalimantan berkomitmen untuk terus mengawal proses pemulihan elang bondol kiriman Bali ini dengan perawatan terbaik.

Yuni menambahkan bahwa seluruh rangkaian upaya ini dilakukan agar sang elang tidak hanya sekadar bertahan hidup, tetapi juga mampu beradaptasi dan berkembang biak di alam liar. Tujuan akhirnya adalah agar elang bondol dapat menjaga kelestarian ekosistem setelah nantinya dilepasliarkan sepenuhnya ke zona penyangga Jerumbun.

Tinggalkan komentar