
Penulis: Mashayu Eka Ramadhani
Kehidupan di tengah kawasan restorasi hutan kini menjadi rutinitas baru bagi Tara (27). Selama dua bulan terakhir, perempuan asal Malang, Jawa Timur, itu menetap dan bekerja di kawasan Jerumbun, Kumai, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah sebuah area rehabilitasi hutan yang dikelola oleh Friends of Nature, People, and Forests (FNPF) Kalimantan.
Di lokasi tersebut, Tara bertugas sebagai staf koordinator relawan. Namun keterlibatannya dengan FNPF bukanlah hal baru. Ia pertama kali bergabung sebagai relawan pada 2021 setelah mengetahui informasi melalui media sosial dan situs resmi organisasi.
Pengalaman sebagai relawan itulah yang kemudian membawanya untuk bekerja secara penuh di bidang konservasi. “Saya pertama kali dapat informasi dari Instagram dan website FNPF. Dari situ saya tertarik untuk ikut sebagai volunteer,” ujarnya.
Keputusannya datang ke Jerumbun juga bukan karena penugasan organisasi, melainkan pilihan pribadi. Ia mengaku ingin mengenal lebih banyak wilayah di Indonesia sekaligus memperdalam pengalaman kerja di bidang pelestarian lingkungan.
Sebelum tiba di lokasi, Tara sempat membayangkan Jerumbun sebagai kawasan hutan alami karena letaknya tidak jauh dari Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Namun kenyataan di lapangan memberikan perspektif berbeda. Ia mendapati bahwa Jerumbun merupakan kawasan yang sedang dipulihkan dari kerusakan akibat kebakaran hutan dan aktivitas pertambangan di masa lalu.
“Awalnya saya pikir ini hutan alami. Setelah sampai, ternyata ini kawasan restorasi. Menurut saya, ini luar biasa karena lahan yang sebelumnya rusak bisa dipulihkan dan perlahan kembali menjadi hutan,” katanya.
Selama tinggal di Jerumbun, aktivitas Tara tidak hanya berkaitan dengan koordinasi relawan. Ia juga terlibat langsung dalam berbagai pekerjaan lapangan, seperti mengelola kebun, menggembala kambing, membersihkan dan merapikan area, hingga membantu kegiatan perawatan tanaman.
Tidak hanya itu, ia juga turut melakukan pengamatan sederhana tapi krusial terhadap keanekaragaman hayati di kawasan tersebut. Saat ini, ia tengah mendokumentasikan keberadaan kupu-kupu dan anggrek sebagai indikator pemulihan ekosistem.
Bagi Tara, kehidupan di Jerumbun menjadi pengalaman yang sejalan dengan harapannya untuk tinggal lebih dekat dengan alam. Lingkungan yang jauh dari hiruk-pikuk kota memberinya ruang untuk belajar, beradaptasi, sekaligus memahami secara langsung proses pemulihan hutan yang berlangsung secara bertahap.
Ia berharap, ke depan kawasan Jerumbun dapat terus berkembang sebagai model pemulihan ekosistem dan ruang pembelajaran lingkungan. Perluasan kegiatan penanaman dan perawatan hutan dinilai penting agar fungsi ekologis kawasan dapat kembali pulih.
“Semoga kegiatan reforestasi di sini bisa terus diperluas, sehingga hutan di Kalimantan perlahan kembali pulih dan memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar,” tuturnya.
