
Penulis: Nazia Ramadhanti
Rusdiansyah (68), staf dari Friends of Nature, People, and Forest (FNPF) di kawasan hutan penyangga, Jerumbun. Ia menegaskan komitmennya untuk tidak menanam kelapa sawit, meskipun ia memiliki lahan garapan seluas satu hektar.
Rusdiansyah ialah warga asal Kumai, telah bekerja sebagai staf di kawasan Jerumbun sejak 2015. Kawasan Jerumbun merupakan hutan penyangga yang berada di antara perkebunan sawit milik masyarakat dan perkebunan sawit PT Bumi Langgang. Kawasan ini memiliki fungsi penting sebagai penyangga ekosistem di tengah tekanan alih fungsi lahan.
“Berapapun lahan yang saya punya, saya tidak akan menanam sawit,” ujar Rusdiansyah saat ditemui di kawasan Jerumbun, pada Kamis, (05/02/26)
Ia menjelaskan, lahan seluas satu hektar yang dikelolanya dimanfaatkan untuk menanam beragam sayuran. Hal ini dinilai lebih ramah lingkungan dan tidak merusak fungsi hutan penyangga.
Selama hampir sepuluh tahun bekerja di Jerumbun, Rusdi mengaku pernah bekerja di PT Bumi Langgang bagian membuka lahan. Ia menyaksikan perubahan lingkungan akibat ekspansi perkebunan sawit di sekitar kawasan tersebut. Pengalaman itu memperkuat keyakinannya untuk tidak ikut menanam sawit, meskipun menjanjikan keuntungan ekonomi.
Pernyataan Rusdianyah ini muncul dari pengalaman panjangnya bekerja di Jerumbun. Di tengah sawit yang sudah mengelilingi kawasan itu, ia memilih bersikap berbeda. Baginya, hutan penyangga tetap harus dijaga, meski sawit terus berkembang di Kotawaringin Barat.
