
Penulis: Rahel Elena Samosir
Friends of Nature, People and Forests (FNPF) Kalimantan mengembangkan program pertanian organik (organic farm) di kawasan konservasi Jerumbun, yang berada di sekitar Taman Nasional Tanjung Puting. Program ini dirancang sebagai bagian dari upaya mendukung ekonomi berkelanjutan sekaligus memperkuat kemandirian pangan di kawasan konservasi.
Pengembangan organic farm dilakukan melalui penanaman sayuran serta peternakan kambing. Langkah ini diambil karena lokasi Jerumbun yang terpencil dan jauh dari permukiman warga, sehingga akses terhadap bahan pangan menjadi terbatas.
“Jerumbun cukup jauh dari desa, jadi kebutuhan pangan tidak selalu mudah didapat. Karena itu, kami mencoba mengembangkan pertanian dan peternakan sendiri,” ujar Yuni (26), staf FNPF, saat diwawancarai peserta pelatihan jurnalistik di kawasan Jerumbun, Kamis (5/2/2026).
Menurut Yuni, program peternakan kambing sebelumnya telah dijalankan di kantor FNPF Kalimantan di Desa Sungai Kapitan, Kecamatan Kumai, sejak 2024. Namun, pengelolaannya dinilai belum optimal. Beberapa kali pergantian penggembala telah dilakukan, tetapi hasil pemeliharaan tetap kurang memuaskan.
“Pengelolaan di kantor kurang berkembang. Anak kambing sering mati dan pertumbuhannya juga tidak signifikan,” jelasnya.
Selain kambing, FNPF juga sempat mencoba memelihara sapi dan domba di lokasi tersebut. Namun, ternak mengalami gangguan kesehatan serupa, seperti perut kembung, yang berujung pada kematian.
Kondisi tersebut menjadi pertimbangan untuk memindahkan program peternakan ke Jerumbun. Pemindahan dilakukan secara bertahap sejak awal 2025, dimulai dengan empat hingga lima ekor kambing untuk memantau kemampuan adaptasi di lingkungan baru. Setelah menunjukkan perkembangan yang lebih baik, seluruh ternak akhirnya dipindahkan ke kawasan tersebut.
Di Jerumbun, kambing dibiarkan merumput secara bebas untuk mengurangi tingkat stres, terutama setelah sebelumnya sempat terserang penyakit scabies. Perawatan kesehatan dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP) dengan pendampingan dokter hewan, termasuk pemberian suntikan rutin setiap dua minggu.
Selain untuk pengembangan ternak, FNPF juga berencana memanfaatkan kotoran kambing sebagai bahan baku kompos. Saat ini, pengelola tengah mengembangkan sistem pengolahan sekaligus menjajaki pemasaran kompos tersebut.
“Dari kambing, bukan hanya peranakannya yang dimanfaatkan, tetapi juga kotorannya untuk kompos, baik untuk kebutuhan di kawasan maupun untuk dijual,” kata Yuni.
Namun, pengelolaan limbah ternak masih menghadapi kendala. Sistem penggembalaan bebas membuat kotoran sulit dikumpulkan secara optimal. FNPF membuka kemungkinan pembangunan kandang jika diperlukan, tetapi untuk sementara kambing tetap dilepasliarkan agar proses adaptasi berjalan baik dan kondisi kesehatannya tetap terjaga.
Program organic farm di Jerumbun diharapkan dapat mendukung kebutuhan pangan di kawasan konservasi sekaligus menjadi bagian dari sistem pengelolaan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
