
Penulis: Syarif Akhmad Darussalam
Pagi itu, deru mesin mobil pikap memecah kesunyian, menandai dimulainya perjalanan menuju Jerumbun, sebuah kawasan hutan yang menjadi ruang kerja konservasi dan penyimpanan harapan. Kabut tipis masih menggantung di sepanjang jalan, sementara matahari perlahan naik, menebarkan cahaya di sela pepohonan yang dilewati rombongan.
Suasana hangat terasa di atas kendaraan. Obrolan santai mengalir di antara peserta yang sebagian masih menahan kantuk, sebagian lain tampak antusias menanti pengalaman di depan. Sepanjang perjalanan, hamparan hutan dan rumah-rumah warga di tepian jalan silih berganti, seolah menjadi pengantar menuju kehidupan yang lebih dekat dengan alam.
Perjalanan darat berakhir di sebuah dermaga yang menjadi pintu masuk kawasan konservasi. Kapal-kapal sederhana bersandar di tepian sungai yang tenang. Suara air yang beradu dengan kayu dermaga berpadu dengan aktivitas petugas dan peserta yang sibuk menyiapkan perlengkapan. Tempat ini bukan sekadar titik singgah, melainkan awal perjalanan menyusuri Sungai Sekonyer, jalur yang menghubungkan manusia dengan hutan Jerumbun.
Satu per satu peserta menaiki kapal. Mesin dinyalakan, getarannya membentuk riak di permukaan air. Saat kapal bergerak meninggalkan dermaga, dinding hijau hutan tampak menjulang di kiri dan kanan sungai. Dari kejauhan, alurnya terlihat berkelok, membelah bentang hutan yang luas dan sunyi.
Di atas kapal, sebagian peserta terdiam menikmati pemandangan. Ada yang mengabadikan momen ketika burung melintas rendah atau saat cahaya matahari memantul di permukaan air. Rasa kagum tampak di wajah mereka, menyadari bahwa sungai yang dilalui merupakan urat nadi bagi kehidupan di dalam dan sekitar hutan.
Perjalanan berakhir di sebuah tepian yang menjadi lokasi kegiatan. Kapal merapat di dermaga sederhana, dan suasana berubah dari pengamatan menjadi keterlibatan. Para peserta turun dan berjalan menuju Jerumbun, kawasan yang menjadi pusat upaya pemulihan habitat dan perlindungan satwa.
Memasuki area hutan, udara terasa lebih lembap. Aroma tanah basah bercampur dengan wangi dedaunan, sementara suara alam—kicau burung, gesekan ranting, dan desir angin datang dari berbagai arah. Cahaya matahari menembus sela-sela kanopi, membentuk pola bayangan di tanah. Di tempat ini, hutan bukan sekadar latar, melainkan ruang hidup yang aktif dan dinamis.
Di dalam kawasan, terlihat area persemaian dengan deretan bibit dan pohon muda yang tertata rapi. Setiap sudut menjadi ruang belajar terbuka. Papan informasi sederhana menjelaskan jenis-jenis tanaman, sementara beberapa lokasi menunjukkan area penanaman berulang untuk mempercepat pemulihan tutupan hutan.
Dalam kesempatan tersebut, Rusdiyansyah (68), yang telah 13 tahun terlibat dalam kegiatan pelestarian di Jerumbun, menjelaskan bahwa terdapat 36 jenis bibit yang dikelola. Di antaranya raidur, nyatoh, rambutan, durian, matoa, cempedak, nangka, hingga gaharu. Menurutnya, setiap jenis memiliki fungsi ekologis, mulai dari menyediakan pakan bagi satwa, menjaga kesuburan tanah, hingga mempertahankan kualitas air dan udara.
Ia menegaskan, upaya di Jerumbun tidak hanya berfokus pada penanaman, tetapi juga perlindungan satwa yang bergantung pada hutan. Staf Friends of Nature, People and Forests (FNPF) secara rutin memantau pergerakan satwa, menjaga keamanan habitat, serta mengantisipasi ancaman seperti perburuan dan perusakan hutan. “Kami di sini tidak hanya menjaga habitatnya, tetapi juga satwa-satwa langka yang harus dilindungi,” ujarnya.
Bagi peserta, kehadiran di Jerumbun menjadi pengalaman yang menghubungkan pengetahuan dengan praktik. Mereka tidak hanya melihat proses persemaian, tetapi juga terlibat langsung dalam penanaman. Beberapa peserta membawa bibit ke lahan yang telah disiapkan, menggali tanah, menempatkan tanaman, lalu menimbunnya kembali dengan hati-hati.
Suara alam mengiringi kegiatan tersebut, seolah menjadi latar bagi upaya kecil yang ditujukan untuk masa depan yang lebih panjang. Menjelang akhir kegiatan, deretan bibit yang baru ditanam tampak berjajar di tepi kawasan hutan kecil, namun menyimpan harapan.
Di penghujung hari, seluruh peserta berkumpul untuk berfoto bersama. Momen itu menandai bahwa mereka bukan hanya datang sebagai pengamat, tetapi turut menjadi bagian dari upaya menanam kembali kehidupan di Jerumbun.
