Tajamkan Empati Langsung dari Hutan

Di tengah kawasan konservasi, peserta pelatihan jurnalistik memanfaatkan waktu untuk belajar dan mengolah materi di depan laptop

Penulis: Amanda Melinda Azzahra


Perjalanan tak selalu dimulai dari tujuan, tetapi dari jeda sejenak untuk melihat sekitar dengan cara berbeda. Perjalanan menuju Jerumbun menjadi sebuah perpindahan yang tidak hanya membawa rombongan menyeberangi laut, tetapi juga memperlambat langkah dari ritme kegiatan harian menuju pengalaman yang lebih tenang dan mengesankan.

Perjalanan menuju Jerumbun dimulai dari dermaga Tanjung Putting National Park pada pagi hari. Rombongan peserta pelatihan jurnalistik LPM Mardaheka menaiki kapal pariwisata yang telah bersandar. Barang bawaan disusun, peserta mencari tempat duduk, lalu kapal berlayar meninggalkan pelabuhan. Daratan perlahan menghilang, digantikan bentang laut yang terbuka.

Selama di atas kapal, aktivitas tidak sepenuhnya berhenti. Para peserta duduk di lantai dua kapal, memandang ke arah depan atau ke permukaan air. Di sela perjalanan, mereka membahas tugas penyusunan outline audio visual, berdiskusi mengenai sudut pandang liputan, serta berbincang satu sama lain. Angin bergerak melewati dek kapal, sementara suara air yang terbelah oleh laju kapal terdengar berulang. Percakapan berlangsung bergantian dengan momen ketika perhatian tertuju kembali pada laut.

Dalam situasi tersebut, perjalanan menghadirkan pengalaman menjalani waktu dengan tempo lambat. Perhatian tertuju pada hal-hal yang berlangsung di sekitar, seperti gerak ombak, arah angin, dan perubahan jarak pandang. Tidak ada perpindahan cepat atau tekanan waktu seperti dalam rutinitas harian. Momen ini menjadi bagian dari pengalaman menjalani aktivitas secara perlahan, dengan kesadaran pada lingkungan sekitar selama perjalanan berlangsung.

Ketika daratan Jerumbun mulai terlihat, arah pandang peserta beralih ke depan. Kapal mendekat secara bertahap hingga akhirnya merapat. Perjalanan belum sepenuhnya usai, karena setelah turun dari kapal peserta masih melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju kawasan konservasi FNPF yang ditempuh sekitar 40 menit, sebelum akhirnya tiba di lokasi kegiatan pelestarian.

Di lokasi, rombongan berdialog dengan seorang relawan bernama Kathleen (72) yang berasal dari Colorado. Ia telah terlibat dalam kegiatan konservasi bersama Friends of Nature, People and Forest (FNPF). Dalam perbincangan tersebut, penulis menanyakan motivasinya menjadi relawan serta alasan kepeduliannya terhadap alam dan kegiatan konservasi. Kathleen menjelaskan bahwa ketertarikannya berangkat dari pengalaman personal yang mana sejak kecil,  ia menyaksikan berbagai bentuk kerusakan lingkungan. Pengalaman tersebut membentuk kepeduliannya serta keinginannya untuk terlibat langsung dalam kegiatan pelestarian.

Selain itu, ia juga memiliki dorongan untuk melihat dan mempelajari bagaimana berbagai tempat di dunia melakukan upaya menjaga lingkungan. Baginya, menjadi relawan merupakan cara untuk belajar sekaligus berkontribusi dalam praktik nyata pelestarian alam. Dalam prosesnya, ia memahami bahwa pelestarian membutuhkan kehadiran langsung, kerja bersama, serta tindakan yang dilakukan secara berulang.

Kepeduliannya semakin kuat setelah berinteraksi langsung dengan alam di Kalimantan. Ia menyebut ketertarikannya pada keberadaan satwa, khususnya monyet-monyet yang hidup di kawasan tersebut, serta kondisi alam yang masih menjadi ruang hidup bagi berbagai spesies. Salah satu pengalaman yang membekas baginya adalah ketika menemukan seekor beruang madu dalam kondisi yang tidak layak. Peristiwa tersebut memperkuat pandangannya mengenai pentingnya upaya perlindungan habitat dan keberlangsungan hidup satwa liar.

Kegiatan di Jerumbun meliputi penyiapan lahan dan penanaman bibit. Proses dilakukan secara bertahap, dari menggali tanah hingga menutup kembali lubang tanam. Setiap tahap memerlukan waktu, tenaga, dan perhatian pada cara pelaksanaan. Bagi Kathleen, kegiatan tersebut merupakan bentuk kontribusi yang dapat dilakukan secara konsisten, meskipun hasilnya tidak terlihat dalam waktu singkat.

Perjalanan menuju Jerumbun pada akhirnya mencatat dua hal yang berjalan bersamaan yaitu pengalaman menjalani waktu dengan ritme lambat selama di laut, serta keterlibatan langsung dalam kegiatan pelestarian saat tiba di darat. Perpindahan tempat tersebut sekaligus menjadi perpindahan cara menjalani waktu dan memahami bentuk partisipasi terhadap lingkungan.

Tinggalkan komentar