
Penulis: Amanda Melinda Azzahra
Seminar kesehatan mental dengan tema After Break Up digelar di Aula Lantai 3 Universitas Antakusuma (Untama), Sabtu (7/3), dengan menghadirkan psikolog Oktami Martasari sebagai pemateri utama. Kegiatan ini dibuka untuk umum dan dihadiri sekitar 115 mahasiswa dan siswa SMA di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Acara ini diinisiasi oleh Jalur Langit (Jala) Project berkolaborasi dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi (BEM FE) Untama. Melalui seminar After Break Up, peserta diajak memahami berbagai fase emosional setelah mengalami kegagalan atau kehilangan serta belajar membangun kembali penerimaan diri.
Dalam pemaparannya, Oktami Martasari menekankan bahwa memaafkan diri sendiri merupakan bagian penting dari proses mencintai diri. “Memaafkan diri sendiri adalah bagian dari self love,” ujarnya di hadapan peserta seminar.
Ia menjelaskan bahwa pengalaman “patah” tidak selalu berkaitan dengan hubungan romantis. Seseorang juga dapat merasakannya akibat berbagai pengalaman hidup seperti kegagalan mempertahankan hubungan, tidak masuk universitas impian, kehilangan orang terdekat, maupun tekanan kehidupan lainnya.
Ia mengingatkan peserta bahwa emosi seperti sedih, marah, dan kecewa merupakan respons yang wajar ketika seseorang menghadapi kegagalan atau kehilangan.
Selain itu, ia menambahkan pentingnya memiliki resiliensi atau kemampuan untuk bangkit kembali setelah menghadapi tekanan hidup. Dengan resiliensi, seseorang dapat belajar dari pengalaman sulit dan berkembang menjadi pribadi yang lebih kuat.
Ketua Jala Project, Wawan Rijalun Hakim, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan seminar kesehatan mental kedua yang diselenggarakan oleh komunitas tersebut. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang diskusi bagi anak muda untuk memahami berbagai persoalan emosional yang mereka alami.
Sementara itu, panitia dari BEM FE Untama, Navisa Qoirotus Aulia, menilai kegiatan ini mampu memberikan pemahaman awal bagi peserta mengenai proses move on dan memaafkan diri sendiri. Ia memperkirakan sekitar 70 peserta dapat memahami materi yang disampaikan dalam seminar tersebut.
Menurutnya, seminar ini menjadi pengantar bagi peserta untuk mengenali berbagai fase emosional dalam kehidupan. “Seminar ini sebagai pengantar bahwa ada fase-fase yang dilalui dalam hidup, mulai dari marah, penyangkalan, hingga akhirnya berkembang menjadi lebih baik,” ujarnya.
Salah satu peserta mahasiswa, Chelsea Pramuditha, mengaku tertarik mengikuti kegiatan tersebut karena tema yang dianggap dekat dengan pengalaman banyak anak muda. Ia mengatakan bahwa seminar ini membantunya melakukan refleksi diri dan memahami pentingnya mencintai diri sendiri. “Dari acara ini jadi lebih bisa refleksi diri dan lebih sayang sama diri sendiri,” ungkapnya.
Wawan Rijalun Hakim, berharap kegiatan ini dapat terus menjadi ruang edukasi kesehatan mental bagi generasi muda. Ia juga berharap program-program yang diinisiasi Jala Project dapat semakin dikenal luas dan membumi di kalangan mahasiswa.
“Harapannya kegiatan seperti ini bisa terus berjalan dan semakin membumi, sehingga lebih banyak anak muda yang peduli terhadap kesehatan mental dan berani berdamai dengan dirinya sendiri,” ujarnya.
