
Penulis: Muhammad Sholehuddin
Pagi bagi Masahisa Fukase, bukan sekadar awal dari sebuah hari. Ia adalah pengulangan yang tenang, hampir tanpa suara, tetapi perlahan menyimpan sesuatu yang tidak terlihat. Dari jendela lantai empat, ia berdiri di tempat yang sama, memandang dunia yang bergerak menjauh. Di antara rutinitas yang tampak biasa, ada satu sosok yang selalu ia nantikan untuk lewat, yaitu Yoko Wanibe.
Dalam rangkaian karya fotografi yang sering disebut sebagai “From Window”, Fukase mencintai dengan cara yang hening. Ia tidak mendekat, tidak memanggil, dan tidak berusaha menahan langkah Yoko.
Ia memilih untuk memotret. Setiap pagi, ketika Yoko melangkah pergi untuk bekerja, Fukase menangkap momen itu dari kejauhan. Seolah waktu dapat diperlambat, seolah jarak dapat dimengerti hanya dengan terus memandangnya.
Dalam bingkai tersebut, cinta tidak hadir sebagai kedekatan, melainkan sebagai pengamatan yang diam. Ia tidak menempatkan dirinya sebagai pasangan yang hadir, tetapi sebagai seseorang yang menyaksikan.
Jendela menjadi batas yang tidak kasat mata, memisahkan antara yang dekat dan yang mulai menjauh, antara memiliki dan perlahan kehilangan.
Pada awalnya, ekspresi Yoko terlihat ringan. Ada kesan ceria yang masih tersisa, seperti seseorang yang menjalani hari dengan harapan yang sederhana. Namun seiring waktu berjalan, perubahan kecil mulai tampak.
Senyum yang dahulu terasa hidup menjadi semakin samar. Tatapan yang awalnya terbuka perlahan menjadi datar. Wajah yang pernah menyimpan banyak makna seakan menutup dirinya dari kemungkinan untuk dibaca.
Kamera Fukase seolah tidak hanya merekam perubahan itu, tetapi juga ikut berada di dalamnya. Ada jarak yang terus dipertahankan, jarak yang tidak pernah benar benar dihapus. Di dalam jarak tersebut, sesuatu perlahan retak tanpa suara.

Apa yang semula tampak sebagai bentuk perhatian dan upaya mengabadikan, perlahan berubah menjadi kumpulan momen yang sunyi. Foto-foto itu tidak lagi berbicara tentang kebersamaan.
Namun, berbicara tentang perpisahan yang berlangsung secara perlahan. Tanpa disadari, yang ia abadikan bukan hanya Yoko, melainkan juga jarak yang tumbuh di antara mereka.
Ketika hubungan itu akhirnya berakhir dan Yoko tidak lagi hadir dalam lintasan pagi yang sama, jendela kehilangan maknanya. Tidak ada lagi yang ditunggu. Tidak ada lagi yang menjadi pusat pandangan. Dunia di luar tetap berjalan, tetapi bagi Fukase, sesuatu telah berhenti.
Di titik inilah arah kameranya berubah.
Memasuki pertengahan tahun 1970-an, setelah hubungan yang ia jaga perlahan runtuh. Sejak sekitar tahun 1975, ia membuat sebuah seri karya fotografi yang kelak dikenal sebagai Ravens. Dalam seri Ravens, sosok manusia menghilang.
Figur yang dulu berjalan menjauh tidak lagi hadir. Yang tersisa hanyalah langit yang luas dan gagak yang melintas dalam kesunyian. Kehadiran gagak tidak hanya sebagai objek visual, tetapi sebagai sesuatu yang membawa suasana batin yang dalam.
Gagak sering dimaknai sebagai simbol kesendirian, bayangan, atau pertanda akan sesuatu yang gelap. Namun dalam karya Fukase, makna itu terasa lebih personal. Gagak menjadi cerminan dari kondisi batin yang kehilangan arah. Ia hadir sebagai sesuatu yang terus bergerak, tetapi tidak pernah benar-benar sampai.
Jika dalam From Window Fukase masih berada pada posisi sebagai pengamat, maka dalam Ravens ia tidak lagi memiliki jarak tersebut. Ia tidak lagi berdiri di balik jendela. Ia telah masuk ke dalam ruang yang sama dengan apa yang ia lihat.
Ia tidak lagi mengamati kesunyian, tetapi berada di dalamnya. Di sini, ia tidak memotret seseorang yang ia cintai. Ia memotret apa yang tersisa setelah kehilangan itu terjadi. Lebih jauh lagi, ia seperti sedang memotret dirinya sendiri dalam bentuk yang lain.
Perjalanan dari jendela menuju langit yang dipenuhi gagak bukan hanya perubahan objek, tetapi perubahan batin. Dari mencintai dalam diam, menuju menghadapi kehilangan dalam kesendirian.
Dari menyaksikan seseorang pergi, hingga menyadari bahwa yang benar benar hilang adalah bagian dari dirinya sendiri.
Pada akhirnya, Ravens tidak hanya berbicara tentang gagak di langit yang kelabu. Ia adalah kisah tentang seseorang yang pernah menunggu, pernah melihat, dan pernah berharap. Hingga suatu saat, tidak ada lagi yang tersisa untuk ditunggu.
Dan mungkin, dalam keheningan itu, tersisa satu kesadaran yang pelan namun dalam, bahwa kesepian yang dibiarkan terlalu lama tidak lagi terasa sebagai jarak, melainkan menjelma menjadi sesuatu yang akrab, bahkan menyerupai rumah.
