
Penulis: Siti Nurhayati
Pukul enam pagi, sinar matahari yang menerobos celah atap Pasar Indra Kencana hanya menyinari deretan lapak yang tertutup rapat. Tak ada lagı keriuhan tawar-menawar pembeli yang dulu tumpah ruah hingga memadati bahu jalan di Kelurahan Raja.
Suasana kini berganti dengan kesunyian yang ganjil, hanya suara tetesan air sisa embun yang jatuh dari atap seng berkarat dan aroma pengap dari kayu lapuk yang mulai membusuk akibat lembap berkepanjangan
Di antara lorong yang lengang dan kumuh, Nurhayati (45) duduk termenung. Jemarinya yang kasar karena terbiasa menggenggam pisau sembari lincah membersihkan ikan dari sisik dan siripnya, kini lebih banyak terlipat di atas meja dagangannya yang kosong.
Sesekali ia merapikan letak beberapa ekor ikannya yang mulai kehilangan kesegaran, berharap ada satu atau dua pasang mata yang melirik. Tatapan matanya yang kosong menyiratkan beban pikiran yang ia pikul setiap kali melihat jarum jam merambat naik, sementara kantong uangnya masih tetap tipis.
“Dulu, untuk sekadar lewat saja orang harus berdesakan. Sekarang, suara langkah kaki sendiri saja terdengar jelas di lorong ini,” ujarnya lirih sembari menatap lantai pasar yang kusam dan beraroma lembap saat ditemui di pasar tersebut, Rabu (1/4/26).
Pernyataan itu sejenak melempar ingatannya ke 2015, saat telinganya masih akrab dengan hiruk-pikuk pelanggan yang kini raib. Dahulunya, berteriak lantang demi melayani kepungan pembeli, kini justru tenggelam dalam senyap yang terasa kelam dan membunuh harapan.
Kesunyian ini adalah sisa luka yang merayap sejak hantaman bertubi-tubi dari pandemi yang melanda pada 2020, disusul musibah banjir besar pada 2022. Kala itu, terjangan arus sungai tak hanya merendam lantai pasar, tapi juga mengamuk hingga menghanyutkan bangunan kayu di sisi belakang.
Puing-puing yang tersisa menjadi awal pudarnya napas ekonomi di salah satu pusat perdagangan utama di Kabupaten Kotawaringin Barat.
“Sebenarnya orang-orang banyak yang mengira pasar di sini sudah tidak ada lagi karena bagian belakangnya habis diterjang banjir,” tambahnya dengan nada getir.

Luluhnya bangunan di sisi belakang memaksa para pedagang menepi ke area depan demi menyambung napas. Namun, langkah bertahan hidup ini justru menjadi boomerang. Pemandangan bangunan yang luluh lantak di bagian belakang pasar justru memberikan kesan yang keliru.
Banyak pembeli akhirnya salah sangka, mengira denyut nadi perdagangan di Pasar Indra Kencana telah mati total hanya karena melihat sisi belakangnya yang kini rata dengan tanah dan tak lagi mampu menopang beban bangunannya sendiri.
Sisa-sisa amuk pandemi dan terjangan banjir besar masih meninggalkan jejak ketidakpastian yang mencekik nadi ekonomi para pedagang Penurunan omzet yang tajam kini bukan lagi sekadar kekhawatiran kosong, melainkan hantaman nyata yang harus ia telan setiap hari di antara lorong-lorong pasar yang kian lengan
“Kalau dulu saya jualan ikan bisa habis sampai 50 kilo sehari, tapi sekarang 20 kilo saja susah. Penurunannya jauh sekali,” keluhnya sembari menata sisa ikan yang seolah ikut membeku dalam penantian panjang akan datangnva pembeli
Kondisi tersebut memicu penurunan omzet yang sangat jauh, di mana penghasilan harian yang dulu bisa mencapai Rp300.000 kini hanya mampu menutupi kebutuhan makan sehari-hari.
la mengungkapkan bahwa masa ramai pasar telah menyusut tajam, riuh rendah tawar-menawar kini hanya mampu bertahan sejenak antara pukul 06.00 hingga 09.00 WIB. Padahal, dalam ingatan yang belum terlalu lama, aktivitas perdagangan masih sanggup berdenyut kencang hingga pukul 16.00 WIB.
Namun kini, begitu jarum jam melewati angka sembilan pagi, lorong-lorong pasar seolah kehilangan napasnya
“Sekarang pasar sudah sepi total saat siang hari,” ujarnya sambil menyapu pandangan ke sekeliling lorong pasar yang lengang.
Di tengah jeratan kondisi pasar yang memprihatinkan, menyerah bukanlah pilihan. Alih-alih hanya duduk termenung menunggu pembeli yang tak kunjung datang, Pedagang kini harus memutar otak, beralih dari sekadar menunggu pembeli di lapak menjadi antar jemput pesanan daring sebagai jurus pamungkas demi menyambung hidup.

Strategi ini ibarat pelampung di tengah arus ketidakpastian, menjaga harapan bertahan di antara lorong-lorong pasar yang kian kusam dan kehilangan keriuhannya.
Meski pasar kini dijuluki sebagai pasar mati oleh para pedagang setempat, menetap menjadi upaya terakhir untuk menjaga ekonomi yang masih tersisa.
Keberlangsungan pendapatan lebih terjamin dengan mengandalkan Konsumen lama dianggap lebih aman daripada berpindah lokasi tanpa kepastian pasar.
Namun, di balik kegigihan para pedagang, terselip kekecewaan karena hingga kini Pemerintah Kotawaringin Barat maupun instansi terkait belum menunjukkan langkah nyata, baik melalui peninjauan lapangan maupun rencana perbaikan fasilitas yang kian usang.
Kini, harapan para pedagang sepenuhnya digantungkan pada pundak Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat. Sentuhan perbaikan fisik pasar dianggap sebagai harga mati untuk memancing kembali keramaian pengunjung.
Bagi mereka, renovasi bukan sekadar urusan bangunan, melainkan kunci utama untuk memulihkan stabilitas ekonomi warga yang hidup dan matinya bergantung sepenuhnya pada denyut nadi Pasar Indra Kencana
