BEM Dianggap Sekadar Badan Event

Kongres VII BEM Universitas Antakusuma (Untama) pada 28 Februari 2025 yang menjadi momen “terakhir kalinya” BEM Untama muncul ditengah-tengah mahasiswa Untama.

Penulis: Nazia Ramadhanti


Di tengah perannya yang menghilang sebagai organisasi tertinggi di tingkat mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Antakusuma (Untama) kerap dihadapkan pada pertanyaan mendasar, apakah BEM masih berfungsi sebagai representasi mahasiswa atau sekadar badan event yang muncul ketika ada isu besar?

Ahmad Nur Faiz, Gubernur BEM Fakultas Ekonomi, menyebutkan bahwa BEM Untama seharusnya mampu menyalurkan aspirasi serta menjadi wadah advokasi bagi mahasiswa. Meski begitu, ia menilai fungsinya belum sepenuhnya dapat dirasakan.

Namun, ia melihat bahwa peran itu belum dapat sepenuhnya dirasakan oleh mahasiswa. Menurutnya, masih terdapat kesenjangan antara BEM Untama dan mahasiswa secara umum, baik dari segi isu yang diangkat maupun akses dalam menyampaikan aspirasi.

“Terkadang isu yang disuarakan tidak selalu relate dengan semua mahasiswa. Bahkan masih banyak yang belum tahu bagaimana cara menyampaikan aspirasi ke BEM,” ujarnya.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Gusti Ade Maulana mahasiswa fakultas hukum. Ia menilai bahwa peran representatif BEM Universitas Antakusuma masih dalam proses menuju ideal, salah satunya karena keterbatasan jangkauan komunikasi aspirasi yang belum menyentuh seluruh lapisan mahasiswa.

Keduanya juga melihat bahwa dominasi kegiatan membuat BEM lebih dikenal hanya sebagai badan event. Meski hal ini dinilai wajar karena kegiatan lebih mudah terlihat secara langsung, mereka menilai pentingnya menjaga keseimbangan antara program kerja dan fungsi representasi.

“Saat ini lebih dominan terlihat sebagai badan event. Hal ini wajar karena kegiatan fisik lebih mudah dilihat (visibel), namun risikonya BEM kehilangan taji sebagai “parlemen” mahasiswa jika fungsinya hanya habis untuk mengurus kepanitiaan.” Tegas Gusti Ade Maulana

Keberanian untuk menyuarakan isu-isu substansial, seperti kebijakan biaya kuliah, fasilitas akademik, hingga isu sosial di lingkungan sekitar kampus, menjadi harapan keduanya agar BEM Untama dapat semakin berperan sebagai representasi mahasiswa idealnya.

Tinggalkan komentar