Kepohonan: Antara Mitos dan Etika Sosial

Meski diselimuti oleh mitos, ada sejumlah pendapat yang membuat kepohonan menjadi lebih masuk akal. Tjilik Riwut dalam bukunya Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan menerangkan bahwa diantara Dayak Ngaju ada tradisi danom tewun tihang [minuman keras], yaitu untuk menjamu tamu dengan arak menggunakan tanduk kerbau. “Disarankan untuk menerima dan meminum arak yang telah diberikan sekalipun hanya diminum sedikit sekali, jangan menolak arak yang telah diberikan karena maksud pemberian arak adalah ungkapan rasa gembira dan hormat. Lanjutkan membaca Kepohonan: Antara Mitos dan Etika Sosial

Hakim “Kolonial” Vonis Syachyunie Bersalah

Ironis, dalam putusan Majelis Hakim, kedudukan masyarakat hukum adat Tempayung tidak diakui sebagaimana mestinya, yang seharusnya menjadi pertimbangan penting dalam kasus ini. Eksistensi masyarakat adat dikaburkan oleh hakim yang lebih berforkus pada legal formil, meskipun dalam putusannya mereka mengklaim telah menegakkan keadilan materiil. Lanjutkan membaca Hakim “Kolonial” Vonis Syachyunie Bersalah