Di Danau Gatal, Nelayan Bertahan Tanpa Setrum dan Racun

Nelayan desa Rungun sedang membersihkan hasil tangkapan di tepian Danau Gatal.

Penulis : Muhtaram


Di suasana yang panas,di balik tenangnya air danau,seorang nelayan tradisional tampak berdiri kokoh di atas sampan kayu  berwarna biru-kuning.

Dengan gerakan terukur, ia melempar jaring ke permukaan air yang tenang di bawah naungan pohon Putat yang melengkung indah.

Pemandangan ini berlangsung di Danau Gatal, Desa Rungun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Di kawasan ini, masyarakat menggantungkan hidup pada ekosistem perairan. Perahu kecil atau sampan menjadi satu-satunya alat transportasi sekaligus sarana produksi utama digunakan untuk menangkap ikan menggunakan jaring, jala, dan kail, atau dalam bahasa lokal disebut pukat, jala, dan ta’ut.

Cara menangkap ikan mereka pun berbeda dari nelayan yang mengandalkan teknologi modern. Warga Danau Gatal tetap setia pada tradisi lama yakni menjotang, menjala, dan melengkong, teknik yang dinilai lebih ramah lingkungan karena sifatnya yang sederhana.

“Kami menangkap ikan seadanya. Tidak sampai mengambil berlebihan, apalagi menggunakan racun atau menyetrum,” ujar Haryati nelayan Danau Gatal, Sabtu (4/4/2026).,

Kondisi perairan danau yang tenang dan terik matahari menyinari kulit kepala dengan rintangan  berupa dahan dan dan akar kayu yang rapat memang menuntut kemahiran yang Tinggi.

tanpa teknologi nelayan harus mengandalkan kekuatan fisik dan insting untuk membaca pegerakan ikan yang berpindah lokasi,demi  mendapatkan hasil tangkapan yang optimal.

Di balik ketangguhan itu, nelayan Danau Gatal menghadapi tantangan yang tidak ringan. Pendangkalan sungai dan perubahan iklim memengaruhi siklus pasang surut air danau, yang pada gilirannya mengancam produktivitas nelayan.

Sejak bendungan penahan aliran sungai (embung) di Desa Rungun dibangun, aliran air menjadi melambat. Akibatnya, pergerakan ikan menuju perairan danau terhenti, dan masyarakat mulai mengeluh atas berkurangnya hasil tangkapan.

Selain itu, akses pasar yang jauh dari pemukiman sering kali membuat masyarakat resah karna masyarakat harus membawa hasil tangkapan ke desa-desa.

Meskipun demikian semangat swasembada serta tetesan keringat para nelayan mereka tidak hanya berperan sebagai penyedia protein hewani bagi masyarakat sekitar,tetapi juga sebagai penjaga alam (gardan lingkungan) yang  Memastikan danau tetap asri dan terjaga dari kerusakan tangan jahil.

Praktik nelayan tradisional di Danau Gatal membuktikan bahwa pengetahuan leluhur masyarakat adat selalu menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian alam.

Dukungan pemerintah pun dinilai mendesak, bukan hanya untuk menjaga ekosistem, tetapi juga demi kesejahteraan nelayan agar warisan ini dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Tinggalkan komentar