Mengalat Tradisi 13 Hari Sebelum Roh Berpindah Alam

Doa bersama dalam prosesi mengalat, Kotawaringin Lama.

Penulis : Putri


Di balik rimbunnya daratan Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, tersimpan sebuah ritus perpisahan yang khidmat.

Masyarakat setempat mengenalnya sebagai Mengalat, sebuah tradisi pelepasan ruh yang dilakukan tepat pada hari ke-13 setelah jenazah dimakamkan.

Bagi masyarakat Kotawaringin Lama, kematian bukanlah perpisahan yang terjadi seketika. Selama 13 hari pertama, roh diyakini masih berada di rumah duka.

Itulah sebabnya, pihak keluarga percaya dan masih tetap menyediakan kasur lengkap dengan bantal dan guling, sebagai tempat peristirahatan terakhir sang ruh sebelum benar-benar melangkah ke alam berikutnya.

Berbeda dengan tahlilan yang biasanya dilakukan 1-7 hari setelah kematian dan melibatkan tetangga serta kerabat jauh, Mengalat bersifat lebih personal dan tertutup.

Ritual ini hanya dihadiri oleh keluarga inti seperti anak, istri, orang tua, serta saudara kandung, yang kemudian dibimbing seorang pemuka agama atau ustadz.

Prosesi Mengalat dimulai saat matahari tepat di atas kepala, sesaat setelah adzan Zuhur berkumandang. Suasana intim menjadi ruang bagi keluarga untuk memanjatkan doa terakhir sebelum melepas keberangkatan sang ruh secara simbolis.

Selain itu, ada hal simbolik lain yang menjadi keunikan dalam prosesi Mengalat, yaitu terletak pada sajiannya. Setidaknya ada 13 jenis kue tradisional yang wajib dihidangkan, masing-masing membawa pesan filosofis.

Salah satu yang paling ikonik adalah tiga iris lemang dengan ukuran berbeda; dua potong panjang dan satu potong pendek yang melambangkan bantal dan guling bagi sang ruh.

Selain lemang, deretan kue seperti apam, cucur, hingga rangai turut menghiasi talam. Setelah doa dipanjatkan, setiap anggota keluarga diwajibkan mencicipi hidangan tersebut sebagai bentuk penghormatan dan kebersamaan terakhir.

Tak hanya makanan, keluarga juga menyiapkan “perbekalan” lengkap untuk perjalanan sang roh. Mulai dari peralatan dapur seperti kuali, sutil, dan cobek, hingga kebutuhan pokok seperti beras, bawang, serta perlengkapan tidur.

Barang-barang ini disimbolkan sebagai bekal bagi almarhum/almarhumah di “rumah baru” mereka. Secara praktis, seluruh perabotan ini kemudian diserahkan kepada pemimpin doa (ustaz) sebagai sedekah.

Harapannya, pemberian ini menjadi amal jariyah yang terus mengalir bagi orang yang telah tiada.

Begitu ritual usai dan tempat tidur yang disediakan selama 13 hari dibersihkan, saat itulah masyarakat percaya bahwa sang ruh telah melangkah keluar pintu rumah, memulai perjalanannya menuju alam yang kekal.

Tinggalkan komentar