Resah yang menjadi Nafas Baru

Penyerahan buku “Bernapas Untuk Mati Lebih Lama Lagi” kepada perwakilan BookParty Pangkalan Bun.

Penulis : Syarif Akhmad Darussalam


Peluncuran buku bertajuk “Bernapas Untuk Mati Lebih Lama Lagi – Sepertinya Realita Kita Sama” karya Vindi Krisna (30) yang menjadi ruang belajar sekaligus diskusi hangat bagi para pecinta literasi di Cafe Basah Kuyup, pada hari Minggu, 3 Mei 2026.

Kegiatan yang dikemas dalam konsep Book Launching & Mini Workshop ini diselenggarakan bersama Pangkalan Bun Book Party dan turut dihadiri sejumlah tamu undangan seperti Gramedia, Jala Project, Insan Kreatif Gemilang, serta LPM Mardaheka UNTAMA.

Acara berlangsung hangat dan penuh antusias. Tidak hanya menjadi momentum peluncuran buku, kegiatan ini juga menghadirkan sesi workshop menulis yang memberi ruang bagi peserta untuk belajar sekaligus mengekspresikan gagasan mereka.

Suasana diskusi terasa hidup ketika para peserta aktif bertanya dan mengikuti sesi praktik menulis bersama.

Vindi menjelaskan bahwa buku tersebut lahir dari keresahan dan realita yang dekat dengan kehidupan banyak orang, khususnya generasi saat ini.

Melalui 48 bab cerita yang ditulisnya, ia berharap para pembaca mampu memahami rasa sakit dan pengalaman orang lain tanpa harus mengalami langsung kejadian tersebut. Menurutnya, banyak hal dalam hidup sebenarnya bisa dicegah jika seseorang lebih peka terhadap sekitarnya.

Judul “Bernapas Untuk Mati Lebih Lama Lagi” sendiri memiliki makna reflektif. Vindi menjelaskan “Bernapas bukan sekadar tentang hidup lebih lama, melainkan tentang memanfaatkan sisa waktu yang dimiliki untuk memperbaiki diri dan tidak menyia-nyiakan kesempatan hidup”.

Ia mengajak pembaca menyadari bahwa hidup adalah kesempatan berharga untuk memperbaiki diri, memperdalam ibadah, serta menjadi pribadi yang lebih baik.

Sementara itu, perwakilan dari Pangkalan Bun Book Party, Alvi Eka Mentari (26), mengungkapkan rasa syukur atas antusiasme peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut. Ia menyebut bahwa acara launching buku dan workshop menulis ini merupakan kegiatan pertama yang mereka selenggarakan.

Meski awalnya sempat ragu mengenai minat peserta, ternyata respons yang diberikan sangat positif. Alvi menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun ruang literasi di Pangkalan Bun.

“Kami berharap ini bukan sekadar acara, tetapi menjadi awal lahirnya lebih banyak penulis lokal yang berani menyuarakan gagasannya,” ujarnya. Banyak peserta aktif mengikuti sesi diskusi hingga praktik menulis, bahkan menunjukkan potensi besar dalam dunia kepenulisan.

Melalui kegiatan ini, ia berharap budaya literasi di Pangkalan Bun semakin berkembang. Tidak hanya melahirkan lebih banyak pembaca, tetapi juga mendorong munculnya penulis-penulis lokal baru yang mampu menyampaikan gagasan dan keresahan mereka melalui karya tulis.

Acara tersebut menjadi bukti bahwa literasi masih memiliki ruang yang hidup di tengah masyarakat, sekaligus menjadi pengingat bahwa tulisan mampu menjadi medium refleksi, penyadaran, dan perubahan bagi banyak orang.

Tinggalkan komentar