
Penulis : Siti Aisyah Pratiwi
Desa Sekonyer, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, kembali menggelar Festival Sekonyer pada 7–9 Juni 2026. Festival yang sempat vakum sejak 2006 ini hadir kembali dengan mengusung tema “Sekonyer Bertutur : Menjaga Alam dan Warisan Budaya.”
Melalui tema yang dipilih pelaksana kegiatan menekankan bahwa hiruk pikuk kemajuan modern harus tetap selaras dengan akar budaya lokal yang menjadi benteng keberlanjutan.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh perangkat pemerintahan desa dan dimeriahkan secara luas oleh masyarakat setempat. Festival berlangsung selama tiga hari penuh dengan rangkaian acara yang memadukan prosesi adat, pertunjukan seni budaya, pameran UMKM, hingga pengenalan kekayaan alam desa.
Ketua pelaksana, Ikra (40), menjelaskan bahwa festival ini digelar sebagai sarana mempromosikan potensi daerah, melestarikan adat istiadat, serta menggerakkan roda perekonomian masyarakat melalui UMKM lokal.
Ikra juga mengungkapkan bahwa festival ini bukanlah yang pertama kali. “Festival ini dulunya pernah ada di tahun 2006, dan sekarang kami hidupkan kembali,” ujarnya. Ia berharap kegiatan ini tidak berhenti hanya di tahun ini.
“Harapan kami, kegiatan ini bisa terus berlangsung setiap tahun untuk memajukan Desa Sekonyer, terutama roda perekonomiannya, sekaligus menjadi ajang pelestarian budaya yang berkelanjutan,” tambah Ikra.
Festival Sekonyer 2026 dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kotawaringin Barat beserta jajaran pemerintahan setempat. Selain itu, tamu undangan datang dari berbagai penjuru, mulai dari Pangkalan Bun, Kumai, hingga Palangka Raya. Yang menarik, festival ini juga berhasil menarik perhatian tamu dari mancanegara untuk hadir langsung ke Desa Sekonyer.
Untuk memudahkan akses pengunjung, panitia membuka pendaftaran tamu melalui akun Instagram resmi festival. Tamu yang telah mendaftar akan dijemput langsung di dermaga Tanjung Puting, Kumai. Kemudian diantar menuju Desa Sekonyer menggunakan klotok wisata yang biasa digunakan untuk membawa wisatawan menjelajahi kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).
Layanan antar-jemput ini tersedia selama tiga hari selama festival berlangsung, sehingga pengunjung tidak perlu khawatir soal transportasi.
Rangkaian festival dibuka dengan prosesi adat tampung tawar, sebuah ritual penyambutan yang sarat makna dalam tradisi masyarakat setempat. Prosesi tersebut dilanjutkan dengan penampilan pencak silat dan berbagai tari-tarian tradisional yang memukau para tamu.
Salah satu daya tarik utama festival adalah stan kuliner khas Sekonyer yang tersusun rapi dan terbuka untuk seluruh pengunjung tanpa terkecuali.
Stan tersebut menghadirkan beragam makanan dan jajanan khas lokal, di antaranya polos-polos, wadai pelangi, hingga kolak dengan isian buah nipah, sajian yang mencerminkan kekayaan cita rasa dan kearifan lokal Desa Sekonyer yang sulit ditemukan di tempat lain.
Tak hanya kuliner, masyarakat lokal juga membuka booth khusus yang memperkenalkan kekayaan alam desa melalui koleksi tanaman obat khas daerah. Pengunjung bisa langsung berinteraksi dan mendapatkan informasi mengenai manfaat tanaman-tanaman tersebut dari warga setempat. Sejumlah lembaga turut membuka stan masing-masing, menambah semarak suasana festival.
Antusiasme pengunjung tampak terlihat sepanjang festival berlangsung. Salah satunya adalah Wina (17), remaja asal Batu Belaman. “Festival ini berbeda karena lebih banyak mengangkat budaya lokal dan terasa masih sangat asri,” ungkapnya. “Yang paling berkesan itu makanannya — punya ciri khas rasa sendiri dan enak-enak. Orang-orangnya juga sangat ramah,” tutur Wina.
Kesan yang disampaikan Wina mencerminkan apa yang memang ingin ditonjolkan oleh penyelenggara: sebuah festival yang otentik, membumi, dan berakar kuat pada identitas lokal, bukan sekadar hiburan semata.
Daya tarik Desa Sekonyer tidak berhenti di arena festival. Desa yang berbatasan langsung dengan kawasan TNTP ini menawarkan pengalaman alam yang langka bagi para pengunjung.
Di sisa-sisa hutan desa, bekantan, primata endemik Kalimantan yang dikenal dengan hidung panjangnya, dapat dijumpai dengan mudah, bahkan berkeliaran bebas di sekitar permukiman warga.
Keberadaan satwa liar yang ikonik ini menjadi pengingat bahwa Desa Sekonyer adalah bagian tak terpisahkan dari ekosistem besar Taman Nasional Tanjung Puting.
Dengan memadukan kekayaan budaya, kelezatan kuliner lokal, keunikan alam, dan keramahan warganya, Festival Sekonyer 2026 tampil sebagai wujud nyata pariwisata yang patut diperhitungkan di Kotawaringin Barat.
Lebih dari sekadar perayaan, festival ini adalah pernyataan kolektif masyarakat Sekonyer bahwa warisan leluhur dan kelestarian alam adalah aset yang harus dijaga dan dirayakan.
