Ketika Ruh Organisasi Kampus Perlahan Hilang

Kegiatan rapat Ormawa dan PPUM yang diselenggarakan pada hari selasa, 29 April 2025.

Penulis : Syarif Akhmad Darussalam


Ruang sekretariat organisasi kampus di Universitas Antakusuma (UNTAMA), setahun belakangan terlihat hampir tidak bepenghuni. Hanya tersisa papan tulis bekas rapat terakhir, dan debu yang memenuhi seisi ruangan. Tanpa diskusi atau adu gagasan seperti dulu.

Beberapa nama mahasiswa masih tercatat sebagai anggota pengurus aktif. Namun kehadiran mereka perlahan menghilang, menyisakan kegiatan yang terasa lebih sebagai kewajiban administratif dari pada gerakan yang hidup dan bermakna.

Padahal organisasi kemahasiswaan (Ormawa) sejatinya bukan sekadar keperluan administratif. Ia adalah ruang aspirasi, inisiasi, dan inovasi.

Tempat mahasiswa mengembangkan kapasitas diri, mengimplementasikan ide, memperluas jaringan, melatih kepemimpinan, dan menyempurnakan identitas akademisnya. Sebuah ruang yang idealnya berdenyut penuh kehidupan.

Namun realitas yang terjadi justru bertolak belakang. Seiring berjalannya waktu, ormawa kampus kehilangan nyawanya.

Di tengah kondisi ini, muncul pertanyaan sederhana namun menggelisahkan: apakah ormawa di UNTAMA masih memiliki harapan, atau justru akan benar-benar mati?

Data hasil observasi fenomena Ormawa di lingkup kampus Universitas Antakusuma

Data diatas merupakan hasil observasi yang dilakukan Lembaga Pers Mardaheka yang kemudian memperkuat fenomena di lingkup ormawa ini. Mayoritas mahasiswa menyatakan bahwa ormawa kampus seperti BEM, UKM, maupun Himpunan Mahasiswa Jurusan, kini tidak lebih dari simbol formalitas.

Keikutsertaan anggotanya terasa tidak memberi manfaat langsung, dan relevansi ormawa dengan kebutuhan riil mahasiswa semakin tipis.

Lalu dari mana akar masalahnya? Para mahasiswa punya analisisnya sendiri.

Riansyah (19), mahasiswa semester dua Fakultas Hukum UNTAMA, menyederhanakannya dengan sebuah perumpamaan: “Sebuah kapal tidak akan berjalan jika tidak ada mesin, dan sebuah mesin tidak akan hidup tanpa adanya bahan bakar,”

Ia menegaskan, organisasi kampus akan kehilangan nyawa apabila tidak ada inisiatif dan kesadaran dari mahasiswa-mahasiswa di dalamnya. Roda organisasi tidak akan berputar jika tidak ada satu pun yang berani memulai.

Pandangan serupa datang dari Dhia Amalia (21), Demisioner kepengurusan  BEM UNTAMA periode 2024–2025. Menurutnya, kemunduran organisasi bukan melulu soal struktur yang rapuh.

“Masalah kemunduran organisasi kampus bukan hanya karena struktur organisasi yang kehilangan nyawa, melainkan juga karena mahasiswa yang kehilangan motivasi untuk berproses dalam organisasi,” tegasnya.

Banyak organisasi perlahan redup bukan karena musuh dari luar, melainkan karena kekosongan dari dalam: minimnya pengetahuan soal manfaat berorganisasi, kurangnya inisiatif, matinya regenerasi kepemimpinan dari pemimpin sebelumnya, dan anggapan bahwa keaktifan di organisasi tidak berbuah manfaat nyata.

Terlebih ketika program-program organisasi tidak lagi menyentuh kebutuhan dan minat mahasiswa masa kini, membuat jarak antara mahasiswa dan organisasinya semakin melebar.

Marisya Putri (21), Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) ke-2 UNTAMA, menambahkan dimensi lain dalam membaca persoalan ini. “Meredupnya organisasi kampus bukan disebabkan oleh satu hal saja, melainkan dari banyak faktor. Di antaranya faktor sistem internal di dalam kampus itu sendiri: birokrasi yang kurang sehat, regenerasi yang lemah, serta minimnya dukungan dari lingkungan kampus, sehingga mahasiswa tidak benar-benar melihat organisasi sebagai ruang yang hidup,” ujarnya.

Dalam situasi seperti ini, mahasiswa kerap terjebak pada pilihan yang paling aman: diam, menunggu, dan menikmati zona nyaman sebagai penonton.

Organisasi pun dipandang tidak lagi relevan, bukan karena tidak ada nilai di dalamnya, melainkan karena nilai itu tidak terasa langsung oleh mereka yang seharusnya menjadi bagiannya.

Di sisi lain, institusi kampus yang gagal membangun ekosistem organisasi yang sehat justru ikut mempercepat kemunduran itu. Ketika ruang gerak mahasiswa dibatasi, dukungan datang setengah hati, dan regenerasi kepemimpinan tidak dipersiapkan, maka organisasi perlahan membusuk seperti bangkai.

Pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab atas kemunduran ini memang belum tuntas dijawab. Namun data dan suara-suara yang muncul dari lapangan menunjuk ke arah yang sama: masalah ini bukan lahir dari satu titik, dan tidak bisa selesai dengan satu tangan.

Namun di balik semua kelesuan itu, harapan belum sepenuhnya padam. Selama masih ada segelintir mahasiswa yang mau bergerak, berpikir, dan menjaga api kesadaran kolektif, organisasi mahasiswa masih punya peluang untuk bangkit dan menemukan kembali relevansinya.

Yang dibutuhkan bukan sekadar struktur yang rapi di atas kertas, melainkan keberanian kolektif untuk memperbaiki arah, membangun kembali relevansi, dan mengembalikan organisasi sebagai ruang perjuangan, pembelajaran, dan keberpihakan pada gagasan.

Sebab pada akhirnya, organisasi mahasiswa tidak akan pernah benar-benar mati,  selama masih ada mahasiswa yang bersedia memulai, meski hanya dengan langkah kecil yang pada waktunya akan melahirkan perubahan yang lebih besar.

Tinggalkan komentar