Capresma-Cawapresma Untama Tawarkan Digitalisasi dan Ruang Aspirasi untuk Hidupkan Kembali Organisasi Mahasiswa

Penyampaian gagasan oleh pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Antakusuma.

Penulis : Feny Catri Masida


Universitas Antakusuma – Pasangan calon Presiden Mahasiswa (Presma) dan Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma) Universitas Antakusuma, Alfian dan Rahel, menawarkan program digitalisasi organisasi dan pembentukan ruang aspirasi mahasiswa dalam Rapat Terbuka yang digelar di hadapan mahasiswa dari berbagai fakultas.

Kegiatan ini menjadi forum perdana bagi keduanya untuk memaparkan visi dan program kerja secara langsung kepada civitas akademika.

Dalam pemaparannya, Alfian menyampaikan bahwa salah satu fokus utama program kerjanya adalah mengevaluasi ulang organisasi mahasiswa yang dinilai mulai vakum.

Langkah konkret yang akan ditempuh mencakup membangun kembali komunikasi antarorganisasi, mengumpulkan seluruh ketua organisasi mahasiswa, serta menjalankan program kerja yang konsisten dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa.

Pasangan calon juga menyoroti kurangnya sumber daya manusia (SDM) organisasi sebagai salah satu penyebab menurunnya aktivitas organisasi di lingkungan kampus.

Untuk mengatasi hal tersebut, mereka berencana melakukan pendekatan personal kepada mahasiswa dan komunitas agar lebih tertarik bergabung.

“Kami ingin membangun organisasi yang mengikuti perkembangan zaman digitalisasi, termasuk memperkuat media sosial organisasi agar tidak tertinggal,” ujar Alfian dalam forum tersebut.

Di bidang aspirasi mahasiswa, pasangan calon menawarkan pembentukan ruang aspirasi melalui kotak aspirasi fisik maupun sistem daring.

Mereka juga berencana turun langsung ke tiap fakultas untuk berdialog dengan mahasiswa, yang hasilnya akan disampaikan melalui audiensi resmi kepada pihak rektorat. Selain itu, sistem kuesioner akan digunakan sebagai alat pengumpulan data nyata untuk mendasari setiap penyampaian aspirasi kepada kampus.

Sesi tanya jawab diwarnai berbagai pertanyaan kritis. Gilang dari Fakultas Pertanian mempertanyakan program konkret yang akan dijalankan mengingat SDM menjadi tantangan utama organisasi yang vakum.

Senada, mahasiswa Program Studi Manajemen, Farass, mempertanyakan komitmen pasangan calon dalam memfasilitasi kebutuhan mahasiswa. Keduanya dijawab dengan penekanan pada konsistensi program dan penguatan komunikasi antarorganisasi, serta komitmen menjalankan tugas tanpa memberikan janji yang berlebihan.

Romi, Mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi menanyakan capaian nyata yang pernah diraih keduanya. Alfian menyebut sejumlah program yang telah dijalankan semasa menjabat Ketua LDK Al-Fatih, di antaranya kegiatan buka bersama, peringatan Maulid Nabi, dan seminar kolaborasi bersama komunitas akhwat.

Sementara Rahel, yang sebelumnya aktif di Divisi Hukum dan HAM, menyampaikan pengalamannya menyelenggarakan penyuluhan kekerasan seksual di lingkungan kampus.

Gusti Ade dari Fakultas Hukum mempertanyakan parameter kuantitatif yang akan digunakan pasangan calon agar organisasi tidak kembali mengalami penurunan aktivitas. Ia juga menyoroti bagaimana cara menghidupkan kembali demokrasi kampus.

Pasangan calon menjawab dengan menegaskan akan mengaktifkan kembali kegiatan dan event organisasi tanpa mengesampingkan nilai-nilai demokrasi.

“Jika anda menjadi pemimpin nanti, apa parameter yang akan anda gunakan agar organisasi mahasiswa tidak kembali mengalami penurunan aktivitas? Lalu bagaimana cara menghidupkan kembali demokrasi kampus?” tanya Gusti Ade.

Pertanyaan mengenai penanganan pelecehan seksual di kampus turut disampaikan Renata dari Fakultas Hukum. Sofia dari Fakultas Pertanian juga mempertanyakan tanggung jawab pasangan calon apabila terpilih namun dihadapkan pada kesibukan seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Kedua pertanyaan tersebut dijawab dengan penekanan pada pentingnya prioritas dan langkah strategis dalam menjalankan amanah organisasi.

Diskusi juga menyentuh persoalan pola pikir mahasiswa terhadap organisasi. Beberapa peserta menilai bahwa jumlah SDM mahasiswa sebenarnya tidak kurang, namun minat untuk aktif berorganisasi yang masih rendah.

Perubahan pola pikir dinilai menjadi kunci utama untuk menghidupkan kembali ekosistem organisasi di kampus.

Rapat Terbuka ini menjadi salah satu tahapan penting dalam proses pemilihan raya mahasiswa Universitas Antakusuma, sekaligus cerminan harapan mahasiswa agar organisasi kampus kembali hidup, relevan, dan mampu menjawab tantangan zaman.

Tinggalkan komentar