Volunteer Gemilang: Ketika Pendidikan Menjadi Harapan Terakhir

Giat Belajar Anak-Anak Putus Sekolah bersama Volunteer Insan Kreatif Gemilang di Balai Bahaum, Kelurahan Baru.

Penulis : Nazia Ramadhanti


Di balik ramainya Kota Pangkalan Bun, ada anak-anak yang tumbuh tanpa kesempatan menikmati masa kecil dan pendidikan yang layak. Sebagian dari mereka harus berhenti sekolah karena ekonomi, keluarga yang tidak utuh, bullying, bahkan ada yang sejak kecil hidup tanpa dukungan dan kasih sayang yang cukup hingga terbilang lingkungan yang tidak ramah anak.

Di antara buku-buku bacaan dan suasana belajar yang hangat, sulit membayangkan bahwa sebagian dari mereka pernah kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan. Beberapa anak bahkan belum pernah benar-benar merasakan duduk nyaman di bangku sekolah.

Komunitas Insan Kreatif Gemilang ini pertama kali dibentuk pada Agustus 2025 oleh tiga perempuan muda, Mia Cisadani, Priliyanti, dan Reni Fatmawati. Awalnya, mereka hanya bergerak di bidang literasi dan edukasi anak, mulai dari gerakan cinta baca, kelas parenting, hingga kegiatan bermain tanpa gadget.

Namun perjalanan mereka berubah ketika mulai bertemu langsung dengan anak-anak yang putus sekolah dan hidup tanpa pendampingan yang layak.

“Ketika ada anak putus sekolah di depan mata dan kita tidak melakukan apa-apa, itu sama saja dengan pembiaran,” ujar Mia.

Kalimat itu menjadi alasan mengapa Insan Kreatif Gemilang akhirnya membuka ruang pendampingan belajar bagi anak-anak yang terpinggirkan dari pendidikan. Kenyataan yang mereka temui jauh dari kata mudah.

Ada anak SMP yang belum bisa membaca, bahkan belum mengenal huruf. Ada anak yang ditelantarkan orang tuanya, menjadi korban bullying, hingga kehilangan semangat belajar karena terus dianggap gagal saat belajar.

Sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah dan lingkungan yang tidak mendukung tumbuh kembang anak. Ada yang harus membantu ibunya berjualan karena ayahnya dipenjara. Ada pula anak yang menyimpan luka karena sejak kecil ditinggalkan ibunya.

Hal itu juga dirasakan oleh Amanda Melinda Azzahra yang sekarang menjadi ketua volunteer komunitas tersebut. Amanda mengaku awalnya tidak menyangka kalau persoalan seperti ini ternyata ada dekat dengan lingkungan sekitar.

“Saya benar-benar kaget dan sedih. Sebelumnya saya pikir kasus seperti itu jauh dari sekitar kita. Ternyata ada anak-anak yang kehilangan hak belajarnya terlalu cepat,” ujarnya.

Namun di balik kerasnya kehidupan yang mereka jalani, anak-anak itu tetap memiliki mimpi.

Suatu hari, saat para volunteer berbincang tentang cita-cita, salah satu anak berkata pelan, “Aku di masa depan mau berbagi dan membantu orang-orang yang membutuhkan.”

Kalimat sederhana itu membuat suasana mendadak hening.

Di tengah hidup yang tidak ramah kepada mereka, anak-anak ini masih menyimpan hati yang hangat untuk orang lain.

Kegiatan yang dilakukan komunitas Insan Kreatif Gemilang ini sebenarnya sederhana. Mereka mengajar membaca, membantu belajar, mengajak berdiskusi, hingga sekadar mendengarkan cerita anak-anak.

Namun dari hal-hal kecil itu, perubahan mulai terlihat. Anak-anak yang sebelumnya sulit berinteraksi kini mulai berani berbicara. Bahkan beberapa anak yang awalnya belum bisa membaca kini mulai menyukai buku.

Meski begitu, perjuangan para volunteer tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar justru datang dari lingkungan tempat anak-anak tumbuh. Sebagian dari mereka terbiasa melihat kekerasan, pertengkaran, hingga perilaku yang tidak sehat sebagai sesuatu yang normal.

“Membentuk karakter anak-anak tidak cukup hanya dua atau tiga kali pertemuan,” ujar Mia. “Kadang ketika sudah mulai berubah, mereka kembali lagi ke lingkungan yang membuat semuanya terulang.”

Di balik senyum yang mereka tunjukkan saat belajar, ternyata tersimpan luka yang tidak sedikit. Luka karena ditinggalkan, dibandingkan, tidak dipilih, dan terlalu cepat memahami kerasnya hidup di usia yang seharusnya masih dipenuhi permainan.

Namun para volunteer percaya, pendidikan bisa menjadi jalan untuk memutus rantai kehidupan itu.

Bagi mereka, pendidikan bukan sekadar soal nilai atau bangku sekolah. Pendidikan adalah kesempatan untuk mengubah masa depan, keluar dari lingkaran kemiskinan, dan membuktikan bahwa keadaan tidak selalu menentukan akhir hidup seseorang.

Anak-anak ini mungkin tidak meminta dikasihani. Mereka hanya ingin diberi kesempatan yang sama untuk belajar, tumbuh, dan dipercaya bahwa mereka juga bisa memiliki masa depan yang baik.

Karena terkadang, satu bentuk kepedulian kecil bisa menjadi alasan seorang anak untuk kembali percaya bahwa harapan itu masih ada.

Tinggalkan komentar