Menapaki Jejak Budaya di Desa Panahan

Oleh : Mashayu Eka Ramadhani

Rumah Adat Desa Panahan merupakan salah satu aset budaya yang memiliki peran penting dalam memperkuat identitas dan karakter desa. Keberadaannya tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat adat, tetapi juga menjadi ruang yang merepresentasikan nilai, tradisi, dan kehidupan masyarakat Dayak setempat. Sebagai simbol pelestarian budaya Dayak, rumah adat ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.

Kebersamaan masyarakat Desa Panahan dan Riam dalam menjalankan prosesi adat Dayak Tomun pada acara penaikan rumah menjadi wujud nyata semangat gotong royong dan kekeluargaan. Keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan prosesi tidak hanya mempererat hubungan antarwarga, tetapi juga menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga dan melestarikan tradisi leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Proses pembuatan tongkat atau pagar tanaman dari bambu oleh warga Desa Panahan menunjukkan keterampilan masyarakat adat dalam memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di lingkungan sekitar. Bambu diolah secara sederhana menjadi perlengkapan yang mendukung aktivitas bertani dan berkebun. Keterampilan ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat Desa Panahan dalam mengolah bahan alam secara fungsional, sekaligus mempertahankan pengetahuan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di tengah Desa Panahan, Sapundu masih berdiri kokoh, membawa jejak dari sebuah tradisi yang dahulu begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Dayak. Bukan sekadar pahatan kayu, tetapi penghormatan kepada leluhur, serta hubungan manusia dengan kehidupan setelah kematian.

Dari buah yang jatuh dari hutan dan kebun, lahir lompu. dodol durian yang diolah dengan ketekunan tangan-tangan warga. Lebih dari sekadar makanan, lompu menjadi bagian dari pengetahuan masyarakat adat dalam mengolah hasil alam dan menjaga cita rasa yang telah diwariskan.

Tinggalkan Balasan